Powered By Blogger
Showing posts with label obat kanker. Show all posts
Showing posts with label obat kanker. Show all posts

Wednesday, November 1, 2017

Mengenal Kanker Paru, Gejala Penyebab dan Pengobatannya


Penyakit Kanker atau Cancer akhir-akhir menjadi perhatian bagi semua pihak. Salah satu kanker yang seringkali diperbincangkan adalah kanker paru. Perlu dikatahui bahwa kanker paru terjadi apabila terdapat pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali di organ paru-paru. Para perokok aktif atau pasif umumnya sangat rentan terserang oleh kanker paru, bahkan menurut data 85% penderita kanker paru disebabkan oleh merokok. Sehingga menghentikan aktivitas merokok secepat mungkin diketahui bisa mencegah pertumbuhan sel kanker.  Selain rokok paparan arsenik, polusi udara dan radiasi juga dapat menyebabkan kanker paru meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit. 


Pada tahap awal, kanker paru-paru tidak menyebabkan gejala apa pun. Gejala hanya akan muncul ketika perkembangan kanker telah mencapai suatu tahap tertentu. Berikut ini adalah gejala-gejala utama yang akan dialami penderita kanker paru-paru, di antaranya:
  • Mengalami sesak napas dan rasa nyeri di dada.
  • Mengalami kelelahan tanpa alasan.
  • Pembengkakan pada muka atau leher.
  • Sakit pada tulang, bisa pada bahu, lengan atau tangan.
  • Berat tubuh menurun.
  • Kehilangan selera makan.
  • Suara menjadi serak.
  • Kesulitan menelan atau sakit saat menelan sesuatu.
  • Perubahan pada bentuk jari, yaitu ujung jari menjadi cembung.
Dalam menilai gejala tersebut mengarah pada kanker atau tidak perlu dilakukan serangkaian tes yang akan menunjukkan bahwa pasien memang menderita kanker, berikut tes yang perlu dilakukan :
  • Pemeriksaan dahak. Dahak yang kita keluarkan saat batuk dapat diperiksa di laboratorium dengan mikroskop. Terkadang pemeriksaan ini bisa digunakan untuk melihat apakah terdapat sel-sel kanker di dalam paru-paru.
  • Tes pencitraan. Diagnosis pertama untuk kanker paru-paru biasanya menggunakan X-ray. Pencitraan X-ray dari paru-paru bisa memperlihatkan tumor yang ada. Jika dari X-ray dicurigai terdapat kanker paru-paru, tes lanjutan perlu dilakukan untuk memastikannya.
  • CT Scan bisa memperlihatkan abnormal kecil yang tidak bisa terlihat dengan X-ray. Dengan memanfaatkan CT scan, pencitraan yang lebih jelas dan detail bisa didapatkan.
  • PET-CT Scan bisa memperlihatkan lokasi sel kanker yang aktif. Pencitraan ini biasa dilakukan jika hasil pemeriksaan dengan CT Scan menunjukkan terdapat sel kanker pada stadium awal.
  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan paru-paru. Prosedur ini dilakukan setelah tes pencitraan dan memperlihatkan bahwa terdapat sel kanker pada bagian dada. Dokter akan mengambil sampel sel jaringan dari dalam paru-paru.
Stadium Kanker Paru-paru
  • Stadium 1. Kanker masih berada di dalam paru-paru dan belum menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya. Besarnya tumor pada tahap ini masih di bawah 5 cm.
  • Stadium 2. Tumor  berukuran lebih dari 5 cm. Namun berapapun ukurannya, tumor dapat dikatakan memasuki stadium 2 apabila kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya, otot dan jaringan di sekitarnya, dan saluran pernafasan (bronkus), kanker menyebabkan paru-paru kolaps (mengerut), terdapat lebih dari satu tumor berukuran kecil dalam satu paru-paru.
  • Stadium 3. Pada tahap ini, ada sel kanker yang telah menyebar ke kelenjar getah bening yang berada jauh dari paru-paru atau kanker menyerang bagian tubuh penting lainnya seperti esofagus (kerongkongan), trakea, atau pembuluh darah utama di jantung.
  • Stadium 4. Kanker sudah menyebar ke kedua paru-paru atau organ tubuh lain yang jauh dari paru-paru seperti otak dan hati. Selain itu, dapat dikategorikan stadium 4 apabila kanker menyebabkan penumpukan cairan pada paru-paru.
Pengobatan kanker paru-paru dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran, jenis dan stadium kanker serta kondisi penderita.
  1. Operasi Pengangkatan Kanker Paru-Paru. Ada 3 operasi pengangkatan untuk mengobati kanker paru. Wedge Resection  yaitu pengangkatan jaringan kecil pada paru karena ukuran tumor yang kecil. Lobektomi  adalah pengangkatan seluruh bagian lobus dalam paru-paru. Lobus adalah bagian  paru-paru yang memiliki batas jelas. Dan yang terakhir adalah pneumonektomi  adalah pengangkatan satu sisi paru-paru secara keseluruhan, operasi ini dilakukan bisa sel kanker sudah menyebar ke satu sisi secara menyeluruh.
  1. Radioterapi dilakukan dengan menggunakan energi radiasi untuk membunuh sel kanker, dilakukan setelah operasi. Radioterapi memiliki efek yang beragam di antaranya adalah batuk hingga mengeluarkan dahak bercampur darah, sakit pada bagian dada, kerontokan pada bulu dada, sering merasa lelah, kulit memerah dan kesulitan menelan.
  1. Kemoterapi. Pengobatan kemoterapi dilakukan secara berkala dalam waktu beberapa minggu atau bulan dengan diselingi istirahat untuk memulihkan diri. Prosedur penanganan memakai obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker, memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, serta menghambat penyebarannya. Kemoterapi juga dilakukan sebelum operasi dengan tujuan untuk membuat sel kanker menyusut sehingga mudah diangkat, dilakukan pasca operasi untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa, serta meredakan rasa sakit dan mengurangi gejala kanker.
  1. Terapi Fotodinamik. Terapi yang digunakan pada pasien dengan stadium awal yang menolak pembedahan. Caranya dilakukan dengan memasukkan tabung pipih pada lokasi tumor kemudian sinar laser akan ditembakkan untuk menghancurkan sel kanker.
  1. Terapi biologis. Langkah pengobatan ini merupakan alternatif dari kemoterapi. Terapi ini menggunakan obat-obatan seperti erlotinib dan gefitinib yang berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Terapi ini biasa direkomendasikan bagi mereka yang mengidap kanker paru-paru non-sel kecil yang telah menyebar sehingga sulit untuk diobati dengan radioterapi atau operasi
  1. Kryoterapi. Tindakan medis ini dapat dilakukan jika kanker sudah mulai menyumbat saluran udara. Alat bernama kryoprobe akan diletakkan pada tumor, kemudian menghasilkan suhu sangat dingin. Suhu dingin tersebut akan menyusutkan tumor.
  1. Ablasi Radiofrekuensi. merupakan jenis pengobatan untuk menangani kanker paru-paru sel kecil yang dapat didiagnosis pada stadium awal. Dokter akan menggunakan CT Scanner untuk mengarahkan jarum ke tumor. Setelah jarum tersebut menusuk tumor, gelombang radio akan dialirkan pada jarum. Panas yang dihasilkan gelombang radio akan membunuh sel kanker. Komplikasi yang umumnya terjadi setelah tindakan ablasi radiofrekuensi adalah munculnya kantung udara yang terperangkap antara lapisan dalam dan luar paru-paru. 
x

Thursday, April 13, 2017

Daftar Interaksi Obat Sitostatika Obat Kanker

Daftar Interaksi Obat Sitostatika

No
Obat
Interaksi
1.
Paclitaxel + Cisplatin
Cisplatin menaikkan efek paclitaxel dengan menurunkan klirense ginjal. Terjadi interaksi minor atau non signifikan.
2.
Leucovurin + Curacil
Leucovurin menaikkan toksisitas curacil, bekerja sinergis. Potensial terjadi interaksi, perlu monitor.
3.
Doxorubicin + Cyclophosphamid
Doxorubicin menaikkan toksisitas cychlo-phosphamide.Terjadi interaksi signifkan, perlu dimonitor. Interaksi obat dapat menaikkan resiko hemorrhagic cystitis.
4.
Carboplatin + Cyclophosphamid
Carboplatin  dan Cychlophosphamid bekerja sinergis. Potensial interaksi, perlu di monitor. Additive myelosupression.
5.
MTX + Cisplatin
MTX dan Cisplatin keduanya menaikkan nephrotoxicity dan atau ototoxicity. Potensial terjadi interaksi, perlu monitor.
6.
Herceptin + Paclitaxel
Paclitaxel menaikkan efek herceptin yang tidak diketahui mekanismenya. Potensial untuk bahaya interaksi. Perlu perhatian dan monitor.


Wednesday, April 5, 2017

Obat Kanker Sitostastika Mengenal Lebih Dekat

Hasil gambar untuk sitostatikaHasil gambar untuk sitostatika
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel-sel secara fraksional ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil daan 10 % tidak berhasil. (Hanifa Wignjosastro, 1997). Bahan Sitostatika adalah zat/obat yang merusak dan membunuh sel normal dan sel kanker, serta digunakan untuk menghambat pertumbuhan tumor malignan. Istilah sitostatika biasa digunakan untuk setiap zat yang mungkin genotoksik, mutagenik, onkogenik, teratogenik, dan sifat berbahaya lainnya. Sitostatika tergolong obat beresiko tinggi karena mempunyai efek toksik yang tinggi terhadap sel, terutama dalam reproduksi sel sehingga dapat menyebabkan karsinogenik, mutagenik dan tertogenik. Oleh karena itu, penggunaan obat sitstatika membutuhkan penanganan khusus untuk menjamin keamanan, keselamatan penderita, perawat, profesional kesehatan, dan orang lain yang tidak menderita sakit. Tujuan penanganan bahan sitostatika adalah untuk menjamin penanganannya yang tepat dan aman di rumah sakit
        Penanganan sitostatika harus memperhatikan :
1. Teknik aseptik
2. Pemberian dalam biological safety cabinet
3. Petugas yang bekerja harus terlindungi
4. Jaminan mutu produk
5. Dilaksanakan oleh petugas yang terlatih
6. Adanya Protap
         Standar kerja yang harus dipersiapkan meliputi :
1. Teknik khusus penanganan sitostatika
2. Perlengkapan pelindung (baju, topi, masker, sarung tangan)
3. Pelatihan petugas
4. Penandaan, pengemasan, transpotasi
5. Penanganan tumpahan obat sitostatika
6. Penanganan limbah         
Contoh Prosedur tetap penanganan sitostatika yang aman terdiri dari :
1.  Persiapan
² Bahan    : obat sitostatika, pelarut
² Alat        : spuit, jarum, baju, sarung tangan, masker, topi, sarung kaki
2.  Protap ruang aseptik
3.  Protap pengerjaan dalam ampul
4.  Protap pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan saat penyiapan
     sitostatika
5.  Protap penanganan jika obat jatuh dan pecah
6.  Protap penanganan limbah sitostatika
Sarana dan Prasarana yang diperlukan untuk penanganan sitostatika
a. Ruang
1. Persyaratan Ruang Aseptik
²  Ruang tidak ada sudut atau siku
²  Dinding terbuat dari epoksi
²  Partikel udara sangat dibatasi : kelas 100, 1000, 10.000 partikel/liter
²  Aliran udara diketahui dan terkontrol
²  Tekanan ruangan diatur
²  Suhu dan kelembaban udara terkontrol (suhu : 18-22 derajat celcius dan kelembaban 35-50%)
²  Ada Hepa filter
2. Ruang Transisi
Ruangan ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang aseptik, di ruanngan ini petugas menggunakan perlengkapan steril
    3. Ruang Cuci Tangan
Ruangan ini digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah melakukan penanganan obat sitostatatika

b. Alat
1. Pass Box
Jendela antara ruang administrasi dan ruang aseptik berfunsi untuk keluar masuknya obat kedalam ruang aseptik 
2. Laminan Air Flow (LAF)
LAF yang digunakan untuk pecampuran sitostatika adalah tipe : Biological Safety Cabinet (BSC). Validasi hepa filter dilakukan setiap 6 bulan dengan jalan kalibrasi. Hepa filter diganti setiap 4 tahun sekali. Aliran udara yang masuk kedalam LAF harus konstan
3. Kelengkapan APD ( Alat pelindung diri)
Kelengkapan ini terdiri dari :
a. Baju             : Terbuat dari bahan yang tidak mengandung serat harus menutupi seluruh anggota badan kecuali muka
b. Topi                 :   harus menutupi kepala sampai leher
c. Masker            :   harus mempunyai kaca plastik
d. Sarung tangan :   digunakan rangkap dua dan terbuat dari bahan latex
e. Sepatu             :   terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam
4.   Biological Safety cabinet (BSC)
Alat ini digunakan untuk pencampuran sitostatika yang berfungsi untuk melindungi petugas, materi yang dikerjakan dan lingkungan sekitar. Prinsip kerja dari alat ini adalah : tekanan udara di dalam lebih negatif dari dari tekanan udara diluar sehingga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Didalam BSC udara bergerak vertikal membentuk barier sehingga jika ada peracikan obat sitostatika tidak terkena petugas. Untuk validasi alat ini harus dikalibrasi setiap 6 bulan. (depkes, 2009)
B. Tujuan Pemberian Kemoterapi
Ø  Meringankan gejala
Ø  Mengontrol pertumbuhan sel- sel kanker
C. Cara Pemberian
Cara pemberian obat sitostatika dapat dilakukan secara :
1. PO : Per Oral
2. SC : Sub Cutan
3. IM : Intra Muscular
4. IV : Intra Vena
5. IT : Intra Thecal
6. IP : Intra Peritoneal / Pleural

Pemilihan vena dan arteri yang tepat serta peralatan yang harus dipakai ditentukan oleh usia pasien, status vena dan obat yang diberikan melalui infus. Lakukan pemilihan vena diatas area yang lentur serta pemilihan iv cateter yang paling pendek dan ukurannya yang paling kecil yang sesuai. Vena yang sering digunakan adalah : Basillic, cephalica dan metakarpal. Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam dan vena yang cocok untuk penusukan terasa halus dan lembut, tidak keras dan menonjol serta memilih vena yang cukup lebar untuk tempat peralatan, media kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jarigan lunak
Prosedur Kerja Penanganan Obat sitostatika
Sebelum kita memulai melaksanakan kegiatan preparasi obat sitostatika yang aman dan menghasilkan produk yang bermutu, harus disusun dahulu standar prosedur kerja sebagai pedoman petugas dalam melaksanakan kegiatan.
Standar Prosedur Kerja meliputi :
·      Fasilitas fisik yang dibutuhkan untuk melindungi operator dan produk
·      Pakaian pelindung yang melindungi operator dan produk
·      Prosedur pelatihan untuk personal
·      Teknik khusus yang diperlukan untuk safe handling cytotoxic
·      Prosedur pembersihan tumpahan obat
·      Prosedur pemberian label, pengemasan, transportasi dan pembuangan limbah cytotoxic

1. Fasilitas Fisik
Australian standard 2639 mensyaratkan menggunakan Cytotoxic Drugs Safety Cabinet (CDSC) yang diletakkan dalam Clean Room. CDSC dan Clean Room dilengkapi dengan HEPA Filter. Cytotoxic Drugs Safety Cabinet yang digunakan bisa Type ISOLATOR atau Biological Safety Cabinet dengan aliran Vertikal. Tekanan Udara di dalam CDSC lebih negatif dibanding didalam Clean Room dan tekanan udara didalam Clean lebih positif dibandingkan diluar. Transportasi keluar masuknya obat-obatan dan alat-alat pendukung preparasi obat dilakukan melalui Pass Box, untuk meminimalkan kontaminasi udara kedalam clean room. Komunikasi petugas didalam clean room dengan petugas diluar dilakukan dengan intercom.
Perawatan Cytotoxic Drugs Safety Cabinet & Clean Room :
·        Cytogard dibersihkan setiap hari dengan desinfectant atau detergent .
·        Desinfeksi clean room dilakukan 1 kali seminggu.
·       Uji mikrobiologi dilakukan secara periodik untuk memeriksa apakah HEPA Filter bekerja dengan baik sehingga dapat menjaga sterilitas sediaan
·       Pengukuran jumlah partikel didalam Cytogard maupun dalam clean room dilakukan secara periodic.
2. Pakaian Pelindung
Pakaian ( Gown )
·        Pakaian terdiri dari pakaian dalam dan pakaian luar
·        Pakaian Pelindung (pakaian luar) harus terbuat dari material yang tidak 
melepaskan debu dan serat.
·        Bahan yang digunakan tidak tembus oleh cairan
·        Pakaian pelindung dibuat lengan panjang dengan manset elastik pada
     tangan dan kaki
Sarung tangan
·          Sarung tangan yang digunakan double untuk melindungi jika terjadi
     tusukan dan harus menutupi manset baju.
·          Sarung tangan yang dipakai harus bebas dari bedak, untuk menghindari
     partikel tersebut masuk kedalam vial.
·        Sarung tangan yang robek harus segera diganti
Tutup Kepala
Tutup kepala harus dapat menutupi rambut sekeliling agar tidak ada partikel kotoran yang dapat mengkontaminasi sediaan.
Tutup Kaki
Tutup kaki digunakan sampai menutup manset baju dalam
Masker & Kaca mata
·        Untuk melindungi mata dan mengurangi inhalasi digunakan kaca mata dan
   masker.
·        Disamping untuk melindungi petugas penggunaan masker juga untuk  
     mengurangi kontaminan.
·        Kaca mata yang digunakan harus dapat melindungi mata dari
     kemungkinan adanya percikan obat kanker.
3. Personal
·       Personal yang akan terlibat dalam preparasi obat sitostatika harus mendapatkan pelatihan yang memadai tentang teknik aseptic dan penanganan obat sitostatika.
·       Petugas wanita yang sedang hamil atau merencanakan untuk hamil tidak dianjurkan untuk terlibat dalam rekonstitusi obat sitistatika
·       Petugas wanita yang sedang menyusui tidak dianjurkan terlibat dalam rekonstitusi obat sitostatika
·       Petugas yang sedang sakit atau mengalami infeksi pada kulit harus diistirahatkan dari tugas ini.
·       Setiap petugas yang akan terlibat dalam rekonstitusi obat sitostatika seminggu sebelumnya harus mendapat pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
1.                Complete blood count
2.                Liver Function Test
3.                Renal Function Test
·       Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan secara periodic setiap 6 bulan, jika terdapat kelainan hasil pemeriksaan harus diteliti lebih dalam
·        Semua hasil harus didokumentasikan
4. Tehnik Penanganan sediaan Sitostatika
1. Penyiapan
Proses penyiapan sediaan sitostatika sama dengan proses penyiapan pencampuran obat suntik. Penyiapan sediaan sitostatika sama dengan proses penyiapan jarum suntik.
1.  Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5 BENAR (benar pasien, obat dosis, rute dan waktu pemberian)
2.  Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima ( nama obat, jumlah, nomor batch, tanggal kadaluarsa), serta melengkapi formulir permintaan.
3.   Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak jelas atau tidak lengkap.
4.   Menghitung kesesuaian dosis.
5.   Memilih jenis pelarut yang sesuai.
6.   Menghitung volume pelarut yang digunakan.
7.   Membuat label obat berdasarkan nama pasien, nomor rekam medis, ruang perawatan dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa campuran (contoh label obat, lampiran 1).
8.   Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomor rekam medis, ruang perawatan, jumlah paket (contoh label pengiriman, lampiran 2).
9.   Melengkapi dokomen pencampuran.
2. Pencampuran
a. Proses pencampuran sediaan sitostatika
1.     Memakai APD sesuai PROSEDUR TETAP
2.     Mencuci tangan sesuai PROSEDUR TETAP
3.     Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
4.     Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai PROSEDUR TETAP
5.     Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6.     Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7.     Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
8.     Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9.     Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi sediaan sitostatika
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat yang harus        terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam wadah     untuk pengiriman.
15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi  melalui pass box.
          16. Menanggalkan APD sesuai prosedur tetap (lampiran 4):
3.   Cara Pemberian
Cara pemberiaan sediaan sitostatika sama dengan cara pemberiaan obat suntik kecuali intramuskular
4.     Penanganan tumpahan dan kecelakan kerja
1.     Penanganan tumpahan
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan petugas tersebut atau meminta pertolongan orang lain dengan menggunakan chemotherapy spill kit yang terdiri dari:
1)    Membersihkan tumpahan di luar BSC dalam ruang steril
a       Meminta pertolongan, jangan tinggalkan area sebelum diizinkan.
b       Beri tanda peringatan di sekitar area.
c       Petugas penolong menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
d       Angkat partikel kaca dan pecahan-pecahan dengan menggunakan alat seperti    sendok dan tempatkan dalam kantong buangan.
e       Serap tumpahan cair dengan kassa penyerap dan buang dalam kantong tersebut.
f        Serap tumpahan serbuk dengan handuk basah dan buang dalam kantong tersebut.
g        Cuci seluruh area dengan larutan detergent.
h       Bilas dengan aquadest.
i            Ulangi pencucian dan pembilasan sampai seluruh obat terangkat.
j           Tanggalkan glove luar dan tutup kaki, tempatkan dalam kantong pertama.
k       Tutup kantong dan tempatkan pada kantong kedua.
l           Tanggalkan pakaian pelindung lainnya dan sarung tangan dalam, tempatkan dalam kantong kedua.
m     Ikat kantong secara aman dan masukan dalam tempat penampung khusus untuk dimusnahkan dengan incenerator.
n       Cuci tangan.
2)    Membersihkan tumpahan di dalam BSC
a       Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau handuk basah untuk tumpahan serbuk.
b       Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang sarung tangan baru.
c       Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus dengan alas  kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam wadah buangan.
d       Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan detergent, bilas dengan   aquadestilata menggunakan kassa. Buang kassa dalam wadah pada buangan.
e       Ulangi pencucian 3 x.
f        Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
g       Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.
h       Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam wadah buangan akhir untuk dimusnahkan dengan inscenerator.
i           Cuci tangan.
2.  Penanganan kecelakaan kerja
a. Dekontaminasi akibat kontak dengan bagian tubuh:
1) Kontak dengan kulit:
a) Tanggalkan sarung tangan.
b) Bilas kulit dengan air hangat.
c) Cuci dengan sabun, bilas dengan air hangat.
d) Jika kulit tidak sobek, seka area dengan kassa yang dibasahi dengan larutan Chlorin 5% dan bilas dengan air hangat.
e) Jika kulit sobek pakai H2O2 3 %.
f) Catat jenis obatnya dan siapkan antidot khusus.
g) Tanggalkan seluruh pakaian alat pelindung diri (APD)
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan.
2) Kontak dengan mata
a)    Minta pertolongan.
b)    Tanggalkan sarung tangan.
c)   Bilas mata dengan air mengalir dan rendam dengan air hangat selama5 menit.
d)   Letakkan tangan di sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan  larutan NaCl 0,9%.
e)  Aliri mata dengan larutan pencuci mata.
f)     Tanggalkan seluruh pakaian pelindung.
g)    Catat jenis obat yang tumpah.
h)    Laporkan ke supervisor.
i)     Lengkapi format kecelakaan kerja.
3)          Tertusuk jarum
a)   Jangan segera mengangkat jarum. Tarik kembali plunger untuk menghisap obat yang mungkin terinjeksi.
b)    Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
c)   Jika perlu gunakan spuit baru dan jarum bersih untuk mengambil obat dalam jaringan yang tertusuk.
d)   Tanggalkan sarung tangan, bilas bagian yang tertusuk dengan air hangat.
e)    Cuci bersih dengan sabun, bilas dengan air hangat.
f)     Tanggalkan semua APD.
g)   Catat jenis obat dan perkirakan berapa banyak yang terinjeksi.
h)    Laporkan ke supervisor.
i)     Lengkapi format kecelakaan kerja.
j)     Segera konsultasikan ke dokter.

4.          Pengelolaan limbah sitostatika
Pengelolaan limbah dari sisa buangan pencampuran sediaan sitoatatika (seperti: bekas ampul,vial, spuit, needle,dll) harus dilakukan sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan bahaya pencemaran terhadap lingkungan. Langkah – langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Gunakan Alat Pelindung Diri (APD).
b.   Tempatkan limbah pada wadah buangan tertutup. Untuk bendabenda tajam seperti spuit, vial, ampul, tempatkan di dalam wadah yang tidak tembus benda tajam, untuk limbah lain tempatkan dalam kantong berwarna (standar internasional warna ungu) dan berlogo sitostatika
c.    Beri label peringatan (Gambar 2) pada bagian luar wadah.
d.   Bawa limbah ke tempat pembuangan menggunakan troli tertutup.
e.    Musnahkan limbah dengan incenerator 1000ÂșC.
f.    Cuci tangan.
5.           PROTAP DESINFEKSI DAN DEKONTAMINASI
I. PERSIAPAN BAHAN DAN ALAT
a.      Mempersiapkan bahan yang terdiri dari
² Alkohol swab
² Alkohol 70 % dalam botol spray
² Mendesinfeksi bagian luar kemasan bahan obat sitostatika dan pelarut dengan menyemprotkan alcohol 70 %
b. Mempersiapkan alat yang terdiri dari
² Mensterilkan alas untuk sitostatika
² Mensterilkan bahan untuk sealing (parafin)
² Mensterilkan sarung tangan , masker, baju, topi, sarung kaki
² Spuit inj. Ukuran 2 X vol yang dibutuhkan.
² Jarum
² Mendesinfektan etiket, label, klip plastik, kantong plastik u/ disposal dengan menyemprotkan alkohol 70 %


Azithromycin, Antibiotik yang digunakan untuk terapi covid

Azithromycin merupakan antibiotik golongan makrolida yang memiliki mekanisme kerja dengan mengikat subunit ribosom 50S pada mikroorganisme y...