Powered By Blogger

Wednesday, May 31, 2017

Introduction dan perkenalan Teori Autonomous Maintenance


Ruang Lingkup Meningkatkan Kualitas produksi perusahaan

1. Autonomous Maintenance
2. Focussed Improvement
3. planned maintenance
4. Training and Education
5. Quality Maintenance                       disebut 8 pilar
6. Early Management
7. SHE
8. tpm in office



Autonomous Maintenance (AM) dibagi menjadi 7 langkah :

 1. AM Step 1 --> Initial Cleaning
 2. AM Step 2 --> Counter Measure (Pencarian Sumber Kontaminasi dan Area Yang    
                             Sulit Dibersihkan)
 3. AM Step 3 --> Temporary Standard (Cleaning, Lubricating, Tightening)
 4. AM Step 4 --> Inspeksi Menyeluruh (Inspeksi dari Operator + Teknisi)
 5. AM Step 5 --> Inspeksi mandiri (Autonomous Inspection)
 6. AM Step 6 --> Organization And Tidiness (Operator mengerti sistem dan menguasai
                             teknis TPM)
 7. AM Step 7 --> Fully Implemented AM (Operator menguasai sistem dan menguasai 
                          teknis TPM)



I.  AM Step 1 --> Initial Cleaning (Pre ; Selama, Pasca)
Untuk Mesin Baru mesin bisa dianggap sudah dilakukan Initial Cleaning sehingga   tidak perlu lagi dilakukan Initial Cleaning untuk mesin tersebut
1.    Pembersihan adalah Pemeriksaan
•      Periksa setiap bagian mesin
•      Periksa dengan menggunakan panca indera
•      Temukan penyimpangan fungsi dari setiap parts (Panas, getaran, bunyi, dan kerusakan)
•      Jika ditemukan penyimpangan menurut panca indera tersebut segera laporkan ke atasan dan amati secara terus menerus pengembangan masalah sambal menunggu penyelesaian masalah dari atasan apabila masalah tersebut tidak dapat ditangani sendiri oleh operator. (apabila Operator bisa menangani sendiri berarti oke)
2. Abnormalitas
•      Keadaan yang tidak sesuai dengan keadaan standard (bunyi, panas, kotor,bocor,oli, dll)
•      Usahakan penemuan abnormalitas tidak hanya saat mesin dalam keadaan berhenti, tapi juga dalam keadaan berjalan.

II. AM Step 2 (Counter Measure)
  Menghilangkan Sumber Kotoran/Kontaminasi & Area Susah dijangkau
• Pola Pikir 1: Mengapa kita harus terus mengerjakan pembersihan jika Sumber Kotoran dan Sumber kontaminasi dapat dihilangkan????? “DENGAN MELAKUKAN COUNTER MEASURE MAKA KITA DAPAT MENGURANGI WAKTU YANG TERBUANG KARENA HARUS MEMBERSIHKAN”
• Pola Pikir 2 : Sebelum sampai kepada tahap counter measure, maka yang harus kita lakukan adalah membersihkan dulu dengan rajin dan konsisten à bagaimana kita bisa mengetahui ada yang : CACAT, TERGORES, BOCOR, KENDOR jika ada kotoran yang menutupi.
Urutan Counter Measure seperti ini :
a.    Rajin membersihkan kotoran sambil Inspeksi , “INGAT : membersihkan kotoran sambil memeriksa Lokasi sumber penghasil kotoran yang akan ditemukan (tulis ke White Tag) ; Penyimpangan yang tertutup kotoran yang akan ditemukan (tulis ke white Tag)
b.    Atasi Sumber kotoran
c.    Jika sumber kotoran sudah diatasi maka bisa masuk ke AM Step 3 àTemporary Standard (Temporary Standard bisa dilakukan dengan baik karena semua sudah terang benderang, tidak tertutupi oleh kotoran), meskipun ceklist inspeksi (Cleaning, Lubricating, Tightening) sebenarnya sudah harus dimulai ketika menjalankan AM Step 1, hanya saja nanti sambil berjalan ceklist inspeksi itu terus direvisi dan diperbaiki
d.    Jika Sumber kotoran sudah diatasi maka waktu pembersihan bisa dikurangi dan CLI time bisa berkurang waktunya

Contoh Sumber Kontaminasi
1)    Fluid Leaks (kebocoran) à Contoh : Bocor oli dari gear box
2)  Poor Containment (Wadah material tidak memadai) à Contoh : Debu yang bertebaran dari plastik tong granul saat dilakukan vacuum transfer di mesin cetak
3)    Poor 5R Practices (5R yang tidak baik)
4)    Work Area Spills (Kotoran yang keluar dari mesin) à Contoh : Terdapat debu granul yang keluar dari mesin
5)    Poor Filtration (Filtrasi/penyaringan yang jelek) à Filter vacuum transfer tidak bisa menyaring dengan baik sehingga bagian atas mesin berdebu
Menghilangkan sumber kontaminasi dan area susah dijangkau
1)    Stop kontaminasi dari sumbernya
2)    Modifikasi peralatan untuk memudahkan dan mempersingkat waktu pembersihan dan pelumasan
3)    Gunakan jendela pemeriksaan untuk memudahkan pemeriksaan
Tujuan Akhir : Mencegah kotoran muncul kembali sehingga aktivitas pembersihan bisa dikurangi
Cara menemukan sumber kontaminasi
1)    Data White Tag dan Red Tag yang ditulis oleh operator merupakan data penting untuk menemukan sumber kontaminasi
2)    Buat Pareto dari temuan Tag yang didapat, dan temuan yang berulang merupakan Sumber Kontaminasi Utama

III. AM Step 3 (Temporary Standard)
•      Definisi Cleaning, Inspection, Lubricating, dan Tightening
1)    Cleaning à Menghilangkan benda-benda asing yang melekat pada mesin dan sekelilingnya
2)    Inspection à Melakukan kegiatan pengecekan terhadap mesin dan peralatan
3)    Lubricating à Aktivitas pemberian pelumas terhadap part mesin yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan dan mempertahankan kehandalan mesin
4)    Tightening à Aktivitas pengencangan baut/mur yang terdapat pada mesin/peralatan
•      Cara membuat Temporary Standard
1)    Temporary Standard dibuat menjadi 4 Standard (Cleaning, Lubricating, Tightening, dan Inspection)
2)    Standard dibuat setelah sumber kontaminasi dan area yang sulit dibersihkan telah ditanggulangi
3)    Standard didapatkan dari hasil penanggulangan sumber kontaminasi dan area sulit dibersihkan + masukan dari PML
•      Item Cleaning, Inspection, Lubrication, and Tightening BUTUH untuk dicatat dan dianalisa sebagai improvement di masa depan à Artinya : Item-item tersebut sebenarnya dinamis dan perlu untuk dilakukan pengembangan




Sunday, May 21, 2017

Metode Uji Aktivitas Antioksidan DPPH


Metode yang paling sering digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan tanaman obat adalah metode uji dengan menggunakan radikal bebas DPPH. Tujuan metode ini adalah mengetahui parameter konsentrasi yang ekuivalen memberikan 50% efek aktivitas antioksidan (IC50). Hal ini dapat dicapai dengan cara menginterpretasikan data eksperimental dari metode tersebut. DPPH merupakan radikal bebas yang dapat bereaksi dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, dapat berguna untuk pengujian aktivitas antioksidan komponen tertentu dalam suatu ekstrak.
Karena adanya elektron yang tidak berpasangan, DPPH memberikan serapan kuat pada 517 nm. Ketika elektronnya menjadi berpasangan oleh keberadaan penangkap radikal bebas, maka absorbansinya menurun secara stokiometri sesuai jumlah elektron yang diambil. Keberadaan senyawa antioksidan dapat mengubah warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning (Dehpour, Ebrahimzadeh, Fazel, dan Mohammad, 2009). Perubahan absorbansi akibat reaksi ini telah digunakan secara luas untuk menguji kemampuan beberapa molekul sebagai penangkap radikal bebas.
Metode DPPH merupakan metode yang mudah, cepat, dan sensitif untuk pengujian aktivitas antioksidan senyawa tertentu atau ekstrak tanaman (Koleva, van Beek, Linssen, de Groot, dan Evstatieva, 2002; Prakash, Rigelhof, dan Miller, 2002).
Untuk penentuan nilai IC50 suatu sampel jangan lupa untuk mengoptimasi dan memvalidasi metode yang Anda pakai. Optimasi metode berupa penentuan OT dan lambda maksimum. Validasi metode dengan parameter akurasi, presisi, linearitas, range, dan spesifisitas.
Menurut Ariyanto cit. Armala (2009), tingkat kekuatan antioksidan senyawa uji menggunakan metode DPPH dapat digolongkan menurut nilai IC50 (Tabel I).
Tabel I. Tingkat kekuatan antioksidan dengan metode DPPH

Intensitas
Nilai IC50
Sangat kuat
< 50 µg/mL
Kuat
50-100 µg/mL
Sedang
101-150 µg/mL
Lemah
> 150 µg/mL


Daftar Pustaka :
Dehpour, A.A., Ebrahimzadeh, M.A., Fazel, N.S., dan Mohammad, N.S., 2009, Antioxidant Activity of Methanol Extract of Ferula Assafoetida and Its Essential Oil Composition, Grasas Aceites, 60(4), 405-412.
Koleva, I.I., van Beek, T.A., Linssen, J.P.H., de Groot, A., dan Evstatieva, L.N., 2002, Screening of Plant Extracts For Antioxidant Activity: A Comparative Study on Three Testing Methods, Phytochemical Analysis, 13, 8-17.

Thursday, May 18, 2017

Mengenal Ephedrine?



Ephedrine adalah amina simpatomimetik yang beraksi sebagai agonis reseptor  adrenergik. Aksi utamanya adalah pada beta-adrenergik reseptor, yang merupakan bagian dari sistem saraf simpatik. Efedrin memiliki dua mekanisme aksi utama. Pertama, efedrin mengaktifkan α-reseptor dan β-reseptor pasca-sinaptik terhadap noradrenalin secara tidak selektif. Kedua, efedrin juga dapat meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin dari ujung saraf. Dengan mekanisme tersebut, efedrin digunakan untuk beberapa indikasi. Pertama, efedrin dapat digunakan untuk obat asma, sebagai bronkodilator (pelega saluran nafas) karena ia bisa mengaktifkan reseptor beta adrenergik yang ada di saluran nafas. Pengobatan asma tradisional atau jaman dulu masih banyak menggunakan efedrin dalam racikannya, namun obat ini mulai banyak ditinggalkan karena efek sampingnya yang cukup besar. Sifatnya yang tidak selektif di mana dapat mengaktifkan reseptor alfa adrenergik pada pembuluh darah perifer dapat menyebabkan efek vasokonstriksi atau penciutan pembuluh darah, yang bisa berakibat naiknya tekanan darah.
Namun di sisi lain, efeknya sebagai vasokonstriktor ini juga digunakan sebagai mekanisme obat dekongestan (melegakan hidung tersumbat). Diketahui, ketika hidung tersumbat, terjadi pelebaran pembuluh darah pada pembuluh2 kapiler sekitar hidung. Karena itu, efedrin yang bersifat menciutkan pembuluh darah bisa berefek melegakan hidung tersumbat. Hal yang sama terjadi pada pseudo-efedrin. Namun karena pertimbangan keamanan, efedrin sudah jarang dipakai dalam komponen obat flu sebagai pelega hidung tersumbat. Sebaliknya, yang banyak digunakan adalah pseudoefedrin. Mekanisme aksi pseudoefedrin mirip efedrin, tapi aktivitasnya pada beta-adrenergik lebih lemah. Pseudoefedrin menunjukkan selektivitas yang lebih besar untuk reseptor adrenergik alfa yang terdapat pada mukosa hidung dan afinitas rendah pada reseptor adrenergik yang ada di sistem saraf pusat ketimbang  efedrin.

Mengapa efedrin sering disalahgunakan?
Efedrin seing disalahgunakan karena nampaknya terkait dengan mekanisme kedua, yaitu meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin. Dopamin diketahui merupakan neurotransmitter yang terlibat dalam kepuasan di otak yang menyebabkan rasa senang dan ingin mengulang berkali-kali sehingga menjadi efek ketagihan. Sedangkan serotonin juga termasuk neurotransmiter yang terlibat dalam “mood’ seseorang dan bisa membantu meningkatkan suasana hati. Dengan strukturnya yang mirip amfetamin dan metamfetamin, mudah diduga ia memiliki efek yang mirip juga sebagai stimulan walaupun berbeda kekuatannya. Efedrin banyak digunakan untuk pesta “napza” karena ia lebih murah dan dapat diperoleh dengan mudah di apotek. Seperti halnya amfetamin, efedrin juga bisa digunakan sebagai “doping” bagi atlet atau mereka yang memerlukan kerja fisik yang berat dan butuh kewaspadaan. Jika dipakai terus menerus, efedrin bisa menyebabkan efek ketergantungan.

Penggunaan efedrin yang lain?
Ternyata efedrin sering juga digunakan sebagai obat pelangsing. Kalian bisa dengan mudah mendapatkan iklan efedrin di internet sebagai obat pelangsing atau untuk body builder. Hal ini karena ia juga memiliki efek termogenik. Beberapa efek yang mendukung efedrin sebagai pelangsing adalah bahwa ia bisa meningkatkan kecepatan yang terkait dengan lipolisis (pemecahan lemak). Kedua, efedrin merupakan penekan nafsu makan, sehingga ideal untuk seseorang yang sedang diet. Ketiga, efek stimulan sarafnya menyebabkan orang merasa memiliki lebih banyak energi, sehingga walaupun asupan kalori kurang maupun banyak olahraga, mereka tidak merasa lelah.  Sebagai termogenik, efedrin digunakan dalam dosis 25-50 mg sehari, jauh lebih besar daripada yang digunakan sebagai dekongestan (di Canada, efedrin tersedia sebagai dekongestan dg kemasan tablet 8 mg). Perlu diingat, bahwa hal ini bisa meningkatkan risiko efek samping, terutama peningkatan tekanan darah.

Apa kemungkinan Efek Sampingnya?
Di samping manfaatnya, tentu saja efedrin tidak bebas dari efek samping. Karena itulah obat ini sudah tidak terlalu banyak digunakan lagi, kecuali oleh dokter-dokter yang masih mendasarkan peresepannya pada pengetahuannya di masa lalu. Beberapa kemungkinan efek sampingnya antara lain adalah:  kecemasan,  gemetar, pusing, Sakit kepala ringan, gastrointestinal distress (misalnya kram perut), insomnia, denyut jantung tidak teratur, jantung berdebar-debar, peningkatan tekanan darah, stroke,  kejang, psikosis, lekas marah dan agresi.
Dengan demikian, efedrin tidak boleh digunakan oleh siapa saja dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, riwayat penyakit jantung dari setiap jenis, penyakit kardiovaskular stroke atau lainnya, depresi, kecemasan, bipolar, asidosis metabolik, diabetes mellitus atau jika salah satu efek samping tercantum di atas terjadi secara berulang.

Wednesday, May 10, 2017

Narkotika dan pengelolaannya di Apotek


                           
Narkotika adalah zatatau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan tingkat atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Berdasarkan UU No.22 tahun 1997 tentang narkotika, narkotika dibedakan dalam 3 golongan:
  1. Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi serta mempunyai potensi yang sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh: kokain, opium, heroin, desomorfina.
  2. Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi/untuk pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh: alfasetilmetadol, betametadol, diampromida.
  3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan menimbulkan ketergantungan. Contoh: kodein, asetildihidrokodeina, polkadina, propiram.
Narkotika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun dapat menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.199/MenKes/SK/X/1996, pedagang besar farmasi (PBF) Kimia Farma depot sentral dengan alamat kantor dan alamat gudang penyimpanan di Jalan Rawa Gelam V Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta Timur sebagai importir tunggal di Indonesia untuk kepentingan pengobatan dan ilmu pengetahuan dengan penanggungjawab yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Sentralisasi ini dimaksudkan untuk memudahkan pengendalian dan pengawasan narkotika oleh pemerintah.
Secara garis besar pengelolaan narkotika antara lain meliputi:
Pemesanan Narkotika
Apotek memesan narkotika ke PBF Kimia Farma dengan menggunakan surat pesanan (SP) yang ditanda tangani oleh apoteker pengelola apotek dengan dilengkapi nama jelas, nomor SIK, SIA, dan stempel apotek, dimana untuk 1 lembar SP hanya untuk 1 macam narkotika saja.
Penyimpanan Narkotika
PerMenKes No.28/MenKes/Per/1987 tentang tata cara penyimpanan narkotika pasal 5 dan 6 menyebutkan bahwa apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika yang memenuhi persyaratan yaitu:
  1. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.
  2. Harus mempunyai kunci ganda yang berlainan.
  3. Dibagi 2 masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian 1 digunakan untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika. Bagian 2 digunakan untuk menyimpan narkotika yang digunakan sehari-hari.
  4. Lemari khusus tersebut berupa lemari dengan ukuran lebih kurang 40x80x100 cm3, lemari tersebut harus dibuat pada tembok atau lantai.
  5. Lemari khusus tidak dipergunakan untuk menyimpan bahan lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh MenKes.
  6. Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh pegawai yang diberi kuasa.
  7. Lemari khusus harus diletakkan di tempat yang aman dan yang tidak diketahui oleh umum.
Pelayanan Resep yang Mengandung Narkotika
Menurut UU No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan bahwa:
  1. Narkotika hanya digunakan untuk kepentingan pengobatan dan ilmu pengetahuan.
  2. Narkotika hanya dapat diserahkan pada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter.
  3. Apotek dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter.
Selain itu berdasarkan surat edaran Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (sekarang Badan POM) No. 336/E/SE/1997 disebutkan :
  1. Sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat 2 UU No.9 tahun 1976 tentang narkotika, apotek dilarang melayani salinan resep dari apotek lain yang mengandung narkotika, walaupun resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali.
  2. Sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat 2 UU No.9 tahun 1976 tentang narkotika, apotek dilarang melayani salinan resep dari apotek lain yang mengandung narkotika, walaupun resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali.
  3. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum sama sekali, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli.
  4. Salinan resep dari narkotika dengan tulisan iter tidak boleh dilayani sama sekali. Oleh karena itu dokter tidak boleh menambahkan tulisan “iter” pada resep yang mengandung narkotika.
Pelaporan Narkotika
Undang-undang No.22 tahun 1997 pasal 11 ayat (2) menyatakan bahwa importir, eksportir, pabrik obat, pabrik farmasi, PBF, apotek rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, menyimpan laporan berkala setiap bulannya, dan paling lambat dilaporkan tanggal 10 bulan berikutnya. Laporan ini dilaporkan kepada Sudin Yankes dengan tembusan ke Balai Besar POM Provinsi setempat dan sebagai arsip.
Pemusnahan Narkotika
Pada pasal 9 PerMenKes RI No.28/MenKes/Per/1978 disebutkan bahwa apoteker pengelola apotek dapat memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluarsa atau tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan bagi pelayanan kesehatan dan atau untuk pengembangan. APA atau dokter yang memusnahkan narkotika harus membuat Berita Acara Pemusnahan Narkotika yang memuat:
  1. Tempat dan waktu (jam, hari, bulan dan tahun).
  2. Nama pemegang izin khusus, APA atau dokter pemilik narkotika.
  3. Nama, jenis, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
  4. Cara memusnahkan.
  5. Tanda tangan dan identitas lengkap penanggung jawab apotek dan saksi-saksi pemusnahan.
Kemudian berita acara tersebut dikirimkan kepada Kepala Dinas Kesehatan RI, Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (POM) setempat dan Arsip dokumen.
Sebagai pelaksanaan pemeriksaan, diterbitkan surat edaran Direktur Pengawasan Obat dan Makanan No.010/E/SE/1981 tanggal 8 Mei 1981 tentang pelaksanaan pemusnahan narkotika yang dimaksud adalah:
  1. Bagi aCotek yang berada di tingkat propinsi, pelaksanaan pemusnahan disaksikan oleh Balai POM setempat.
  2. Bagi apotek yang berada di Kotamadya atau Kabupaten, pelaksanaan pemusnahan disaksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Tingkat II.
Demikian pengelolaan obat golongan narkotika di apotek semoga bermanfaat untuk rekan-rekan apoteker semua.

Friday, May 5, 2017

Apa itu Metformin?


Metformin HCI biasanya memiliki potensi 500 mg atau 850 mg. Metformin memiliki cara kerja menurunkan kadar gula darah dengan tidak berdasarkan peningkatan sekresi insulin. Metformin tidak mengalami metabolisme di hati, diekskresikan dalam bentuk yang tidak berubah terutama dalam air kemih dan sejumlah kecil dalam tinja. Sebagai obat antihiperglikemik golongan biguanid, Metformin diindikasikan sebagai terapi pada pasien diabetes yang tidak bergantung pada insulin terutama dengan kelebihan berat badan dan kadar gula darah yang tidak bisa dikontrol dengan diet saja. Dapat dikombinasikan sebagai obat tunggal atau dapat dikobinasikan dengan sulfonilurea. Metformin juga dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada penderita diabetes dengan ketergantungan pda insulin dengan tujuan untuk mengurangi dosis insulin.

Pemberian Metformin dapat diberikan setelah makan atau bersamaan dengan makanan. Dosis pada dewasa pemberian awal 500 mg 3xsehari atau 850 mg 2xsehari. Hal ini dapat dicapai dalam beberapa hari tapi tidak efek baru tercapai setelah 2 minggu. Apabila hasil yang diinginkan tidak tercapai dosis dapat ditingkatkan maksimal hingga 3 g sehari. Bila gejala diabetes sudah dapat dikontrol dosis dapat diturunkan.  Kombinasi dengan sulfonilurea mula-mula diberikan 500 mg atau 1/2 atau 1 kaplet Metformin 850 mg, kemudin osis dinaikkan perlahan-lahan sampai diperoleh kontrol optimal. Seringkali sulfonilurea dapat dikurangi dan bahkan pada beberapa pasien pemberian sulfonilurea dapat dihentikan dan Metformin selanjutnya diberikan sebagai obat tunggal. Apabila diberikan bersamaan dengan insulin, bila dosis insulin kurang dari 60 unit sehari permulaan diberikan 500 mg tau 1/2 - 1 kaplet 850 mg, dosis insulin dikurangi secara bertahap. Pemakaian kaplet dapat ditingkatkan setiap interval mingguan. Tapi apabila dosis insulin lebih dari 60 unit sehari pemberian Metformin adakalanya dapat menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Pasien demikian harus diobservasi dengan hati-hti selama 24 jam pertama setelh pemberian Metformin, setelah itu dapat diikuti dengan pemberian Metformin kombinasi dengan insulin seperti sebelumnya.

Peringatan dan perhatian pemberian Metformin HCI :

  • Hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal karena dapat terjadi akumulasi obat dan asidosis laktat.
  • Tidak dianjurkan penggunaan pada pasien dengan kondisi dimana menyebabkan dehidrasi atau pada penderita yang baru sembuh dari infeksi serius atau trauma.
  • Pada pasien yang mempunyai predisposisi terhadap terjadinya kekurangan vitamin B12 dinjurkan pemeriksaan berkala kadar B12 pada penggunaan jangka panjang.
  • Oleh karena adaya kemungkinan terjadinya hipoglikemia pada pengobatan dengan kombinasi dengan sulfonilurea, kadar gula dalam darah harus dimonitor.
  • Pada pengobatan dengan kombinasi dengan insulin sebaiknya dilakukan di rs agar dicapai efek yang optimal.
  • Hati-hati pemberian pada pasien lanjut usia yang mempunyai gangguan fungsi ginjal.
  • Tidak direkomendasikan penggunaan pada anak-anak.


Efek samping yang dapat timbul dari pemberian Metformin HCI :

  • Gangguan saluran cerna : anoreksia, mual, muntah, dan diare biasanya hanya terjadi sementara. Hal ini dapat dihindari dengan pemberian bersamaan dengan makanan atau dengan jalan mengurangi dosis secara temporer.
  • Bila tampak gejala intoleransi saluran cerna pemberian Metformin jangan langsung dihentikan biasanya efek tersebut akan hilang pada penggunaan selanjutnya.
  • Berkurangnya absorbsi vitamin B12.


Kontra indikasi Metformin HCI :

  • Hipersensitivitas terhadap obat ini.
  • Koma diabetik dan ketoasidosis.
  • Gangguan fungsi ginjal yang serius.
  • Penyakit hati kronis, kegagalan jantung dan miokardial infark, alkoholisme, riwayat atau keadaan yang berkaitan dengan laktat asidosis seperti syok atau insuffisiensi pulmonal dan keadaan yang berhubungan dengan hipoksemia.
  • Kehamilan dan menyusui


Metformin dapat mengalami interaksi obat dengan antikoagulan tertentu. Dalam hal ini diperlukan penyesuaian dosis antikoagulan. Bersihan ginjal Metformin menurun pada penggunaan yang bersamaan dengan simetidin, maka dosis Metformin harus dikurangi.

Tuesday, April 25, 2017

Apa itu angin duduk? Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Penegahannya

Angin duduk seringkali disamakan dengan masuk angin padahal sejatinya angin duduk tidak sesederhana masuk angin atau demam, angin duduk atau di dunia medis dikenal dengan nama angina adalah sebuah kondisi yang ditandai dengan nyeri pada dada akibat otot-otot jantung kurang mendapat pasokan darah. Terganggunya pasokan darah ini terjadi karena adanya penyempitan atau pengerasan pada pembuluh darah. Serangan angin duduk bisa terjadi secara tiba-tiba.
Hasil gambar untuk angin duduk
Nyeri dada yang dialami oleh penderita angin duduk kemungkinan bisa menjalar sampai ke lengan kiri, leher, rahang, dan punggung. Selain gejala tersebut, gejala angin duduk lainnya adalah:
  • Sesak napas.
  • Tubuh terasa lelah.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Gelisah.
  • Mengeluarkan keringat berlebihan.
Meskipun tidak semua nyeri dada berhubungan dengan penyakit jantung, tetapi anda tetap harus waspada. Temui dokter jika tiba-tiba Anda merasakan nyeri pada dada, namun belum pernah terdiagnosis menderita masalah apa pun pada jantung. 

Penyebab Angin Duduk (Angina)

Agar dapat bekerja dengan baik, jantung membutuhkan asupan darah yang kaya akan oksigen secara cukup. Darah untuk jantung akan dialirkan melalui dua pembuluh besar yang disebut sebagai pembuluh koroner. Angin duduk terjadi ketika pembuluh koroner tersebut mengalami penyempitan.
Berdasarkan hal-hal yang dapat memicu penyempitan pembuluh koroner, angin duduk dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  • Angin duduk stabil. Aktivitas fisik (misalnya olahraga) adalah pemicu terjadinya kondisi ini. Ketika seseorang melakukan olahraga, jantungnya akan membutuhkan lebih banyak asupan darah. Asupan tersebut tidak akan tercukupi jika pembuluh koroner mengalami penyumbatan atau penyempitan. Serangan angin duduk stabil juga dapat dipicu oleh beberapa hal lainnya, seperti merokok, stres, makan berlebihan, dan udara dingin.
  • Angin duduk tidak stabil. Kondisi ini dapat dipicu oleh timbunan lemak atau pembekuan darah yang mengurangi atau menghalangi aliran darah menuju jantung. Tidak seperti angin duduk stabil, nyeri akibat angin duduk tidak stabil akan tetap ada walau penderita sudah berisitirahat dan mengonsumsi obat.  Jika dibiarkan, serangan angin duduk tidak stabil bisa berkembang menjadi serangan jantung.
  • Angin duduk varian (angin duduk Prinzmetal). Dalam kasus ini arteri jantung menyempit sementara akibat spasme. Angin duduk varian bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika seseorang sedang beristirahat. Gejalanya seringkali parah. Penyempitan sementara pada arteri menyebabkan pasokan darah ke jantung menurun dan timbulah rasa sakit. Meskipun begitu, gejala angin duduk varian bisa diredakan dengan obat-obatan.
Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena angin duduk. Beberapa faktor tersebut di antaranya:
  • Kolesterol tinggi. Tingginya kadar kolesterol di dalam tubuh seseorang berpotensi menumpuk di dalam pembuluh darah. Jika ini terjadi, tentu saja darah akan sulit mengalir ke dalam jantung.
  • Memiliki penyakit diabetes. Tingginya kadar gula akibat diabetes, dapat merusak dinding arteri. Selain itu, diabetes juga dapat meningkatkan kadar kolesterol di dalam tubuh.
  • Hipertensi. Jika aliran darah terhalang, jantung akan makin kuat memompa dan meningkatkan tekanan agar darah tersebut dapat mengalir. Jika ini terus terjadi, maka tekanan tinggi tersebut dapat merusak dinding arteri atau menyebabkan pengerasan pada pembuluh tersebut.
  • Stres. Saat kita mengalami stres, tubuh akan memproduksi sejumlah hormon yang dapat mempersempit pembuluh darah. Selain itu stres juga dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Obesitas. Orang yang mengalami obesitas akan rentan mengalami sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko terkena angin duduk, seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
  • Merokok. Aktivitas ini dapat merusak dinding arteri dan menyebabkan penimbunan kolesterol sehingga darah akan kesulitan membawa oksigen untuk diedarkan.
  • Riwayat. Jika kita pernah terkena penyakit yang berhubungan dengan jantung atau memiliki keluarga yang memiliki riwayat tersebut, maka kita juga akan berisiko tinggi terkena angin duduk.
  • Kurang berolahraga. Orang yang kurang olahraga berisiko terkena angin duduk karena akan rentan terhadap obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes, yang akhirnya akan meningkatkan risiko terjadinya angina.
  • Umur. Orang yang berusia lanjut lebih berisiko terkena angin duduk dibandingkan dengan orang yang masih muda karena pembuluh darah akan mengeras dan kehilangan kelenturannya seiring bertambahnya usia. Terutama bagi pria, peningkatan risiko ini dimulai pada umur 45 tahun, sedangkan pada wanita dimulai pada umur 55 tahun.

Berikut adalah pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis angin duduk:

  • Elektrokardiogram (EKG). Melalui tes ini aktivitas elektrik dan ritme jantung direkam dengan bantuan elektroda yang dihubungkan pada sebuah mesin khusus. Dari pola detak jantung yang terekam ini, dokter dapat melihat apakah aliran darah pasien mengalami penurunun atau gangguan. Selain angin duduk, elektrokardiogram juga dapat mendeteksi apakah pasien mengalami serangan jantung.
  • Ekokardiogram. Tes ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan angin duduk, misalnya adanya kerusakan otot jantung akibat terganggunya aliran darah atau adanya bagian jantung yang kurang cukup mendapatkan suplai darah. Identifikasi ini didapat dari sebuah gambar yang dihasilkan melalui gelombang suara.
  • Tes ketahanan jantung (Exercise Tolerance Test). Tes ini bertujuan mengukur daya tahan jantung saat kita melakukan aktivitas fisik sebelum gejala angin duduk muncul. Aktivitas fisik bisa berupa olahraga dengan treadmill yang dilakukan di ruangan. Tes ketahanan jantung akan dipadukan dengan elektrokardiogram untuk membantu dokter membaca ritme jantung.
  • Skintigrafi jantung. Tes ini bisa dilakukan jika hasil pembacaan elektrokardiogram masih meragukan. Di dalam tes skintigrafi jantung, sebuah cairan pewarna khusus akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Zat pewarna ini akan mengalir menuju jantung dan dipantau dengan menggunakan kamera gamma untuk mengetahui jika aliran tersebut mengalami gangguan.
  • Angiografi pembuluh darah koroner. Tes ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk selang tipis yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah. Tujuannya untuk mengetahui apakah pembuluh darah tersebut mengalami penyumbatan dan seberapa parah penyumbatan tersebut. Angiografi jantung dilakukan jika diagnosis angin duduk tidak bisa dilakukan dengan cara apa pun atau jika gejala terus ada meski sudah diobati. Tes ini berisiko menimbulkan komplikasi seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, prosedur ini hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan.
  • Tes darah. Dokter akan meneliti keberadaan enzim jantung di dalam darah sebagai acuan terjadinya kerusakan pada organ jantung akibat serangan jantung.
  • X-ray dada (rontgen). Metode pemeriksaan ini terkadang dipakai oleh dokter untuk melihat apakah gejala yang dirasakan berkaitan dengan kondisi selain angin duduk. Selain itu, pemeriksaan yang menghasilkan citra jantung dan paru-paru ini dipakai oleh dokter untuk melihat adanya pembesaran jantung.
  • CT scan jantung. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui adanya dan seberapa parah penyempitan pada pembuluh jantung serta apakah ada pembesaran jantung yang tidak terlalu tampak dari hasil X-Ray dada. CT scan jantung dilakukan dengan bantuan mesin khusus berbentuk tabung yang dilengkapi dengan X-ray. Dari pemeriksaan ini akan didapat gambar mengenai kondisi jantung pasien secara terperinci.

Pengobatan Angin Duduk (Angina)

Pengobatan angin duduk bertujuan mengurangi tingkat keparahan gejalanya dan menurunkan risiko penderitanya terkena serangan jantung atau mengalami kematian.
Angin duduk dengan gejala ringan atau menengah sebenarnya masih bisa ditangani tanpa obat-obatan, yaitu dengan menjalani pola hidup sehat dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat memicu munculnya angin duduk. Beberapa hal tersebut di antaranya:
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang atau yang mengandung banyak serat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian.
  • Batasi konsumsi makanan-makanan yang mengandung lemak jenuh.
  • Jangan makan melebihi porsi atau kalori yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Seimbangkan antara aktivitas fisik yang dilakukan dengan istirahat. Ada baiknya minta nasihat dokter terlebih dahulu mengenai olahraga yang aman untuk kondisi Anda.
  • Hindari stres atau tangani stres jika Anda mengalaminya.
  • Lakukanlah program penurunan berat badan jika Anda mengalami obesitas.
  • Hindari asap rokok.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Selalu kontrol kadar gula darah jika Anda menderita diabetes.
Jika angin duduk tidak cukup diatasi dengan penerapan gaya hidup sehat, maka dokter dapat meresepkan beberapa obat berikut ini untuk mengatasi sekaligus mencegah terjadinya angin duduk di kemudian hari:
  • Obat-obatan nitrat. Selain efektif dalam mengatasi gejala angin duduk, nitrat juga dapat digunakan sebagai metode pencegahan jangka panjang atau digunakan sebelum melakukan aktivitas yang berpotensi menyebabkan angin duduk (misalnya olahraga). Obat ini berfungsi melemaskan pembuluh darah yang kaku agar darah dapat mengalir dengan lancar menuju jantung. Salah satu obat nitrat yang banyak digunakan adalah glyceryl trinitrate. Obat ini mampu meredakan gejala angin duduk dengan cepat. Jangan mengonsumsi minuman keras selama menjalani pengobatan dengan glyceryl trinitrate karena dapat memperparah efek samping yang muncul.
  • Obat-obatan pencegah pembekuan darah. Obat ini berfungsi memisahkan kepingan-kepingan darah dan mencegah penggumpalan. Beberapa contoh obat dari golongan ini adalah clopidogrel dan ticagrelor.
  • Obat penghambat saluran kalsium. Obat ini dapat melancarkan aliran darah di dalam jantung dan meredakan atau mencegah gejala angin duduk. Obat yang juga dikenal sebagai antagonis kalsium ini mampu melemaskan sel-sel otot yang terdapat di dalam dinding pembuluh darah.
  • Nicorandil. Obat ini merupakan jenis aktivator saluran kalium, dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang tidak bisa mengonsumsi obat penghambat saluran kalsium. Obat ini berfungsi memperlancar aliran darah pada jantung dengan cara memperlebar arteri koroner.
  • Obat penghambat beta. Dalam meredakan atau mencegah gejala angin duduk, obat ini bekerja dengan cara menangkal efek hormon adrenalin sehingga tekanan darah berkurang dan ritme jantung menurun. Dengan demikian, beban jantung akan menurun.
  • Ivabradine. Ini adalah obat generasi baru dengan kinerja yang sama dengan obat penghambat beta. Obat ini dapat dijadikan alternatif jika penderita angin duduk tidak bisa mengonsumsi obat penghambat beta karena kondisi medis tertentu, seperti infeksi pada paru-paru.
  • Ranolazine. Obat ini dapat mencegah angin duduk dengan cara memperlancar aliran darah dan melemaskan otot-otot jantung. Ranolazine aman digunakan oleh penderita yang memiliki ritme jantung tidak teratur atau memiliki riwayat serangan jantung karena obat ini tidak memengaruhi kecepatan detak jantung.
  • Selain obat-obatan untuk mengatasi dan mencegah serangan angin duduk, dokter mungkin juga akan meresepkan beberapa obat untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke, seperti:
  • Statin. Obat ini mampu menurunkan kadar kolesterol sehingga kerusakan pembuluh darah dapat dicegah. Selain itu, statin juga dapat menurunkan risiko terkena stroke dan serangan jantung. Statin bekerja dengan cara memblokir suatu enzim penghasil kolesterol yang terdapat di dalam organ hati. Potensi efek samping statin adalah nyeri perut, diare, dan konstipasi.
  • Aspirin. Obat ini berfungsi untuk mengurangi tingkat penggumpalan darah sehingga darah akan mudah mengalir melalui pembuluh yang sempit sekali pun. Selain mengatasi angin duduk, aspirin juga dapat menurunkan risiko terkena serangan jantung. Beberapa efek samping penggunaan aspirin di antaranya adalah mual, gangguan pencernaan, dan iritasi lambung.
  • Obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor). Obat ini berfungsi untuk menghambat aktivitas suatu hormon yang dapat mempersempit pembuluh darah. Hormon tersebut disebut angiotensin. Obat ini juga dapat menurunkan tekanan darah. ACE inhibitor tidak boleh digunakan pada penderita angin duduk yang memiliki gangguan ginjal karena dapat menurunkan suplai darah ke organ tersebut.
Jika gejala angin duduk sudah parah dan tidak bisa lagi diatasi dengan obat-obatan, tindakan operasi akan dipertimbangkan oleh dokter demi mencegah terjadinya serangan jantung. Beberapa jenis operasi tersebut di antaranya:
  • Operasi bypass. Prosedur ini bertujuan untuk mengalihkan rute aliran darah agar tidak melewati pembuluh darah yang terhalang atau sudah rusak dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lainnya.
  • Operasi angioplasti. Prosedur yang bertujuan memperlancar aliran darah ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah balon kecil ke dalam pembuluh darah yang mengalami penyempitan, sehingga ketika balon tersebut ditiup, pembuluh darah akan melebar. Setelah itu, sebuah kawat khusus akan digunakan. Fungsi kawat ini untuk mengganjal pembuluh darah agar tetap terbuka.

Pencegahan Angin Duduk (Angina)

Langkah pencegahan angin duduk hampir serupa dengan langkah pengobatan awal angin duduk tanpa menggunakan obat, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain mencegah terjadinya serangan angin duduk pada orang-orang yang belum pernah mengalaminya, penerapan pola hidup sehat juga dapat mengurangi tingkat keparahan gejala angin duduk pada penderitanya. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah angin duduk, di antaranya:
  • Berolahraga. Anda bisa melakukan olahraga ringan, seperti bersepeda santai, berjalan, atau berenang. Selain dapat menurunkan berat badan, olahraga juga dapat membuat peredaran darah menjadi lancar dan menurunkan tekanan darah, sehingga jantung dan pembuluh koroner tetap sehat.
  • Mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung. Agar bisa tetap bekerja dengan baik, Anda butuh makanan penunjang. Makanan yang sehat untuk jantung harus kaya akan serat. Anda bisa mendapatkan kebutuhan serat melalui buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian utuh. Selain serat, makanan yang mengandung lemak tidak jenuh juga sehat untuk jantung karena lemak tidak jenuh dapat membantu menurunkan penyumbatan pembuluh darah. Beberapa contoh makanan yang mengandung lemak tak jenuh adalah ikan tuna, salmon, tahu, minyak zaitun, kacang almond, dan buah avokad.
  • Hindari makanan yang berbahaya bagi jantung. Agar terhindar dari angin duduk, hindarilah makanan yang terlalu banyak mengandung garam. Takaran garam yang direkomendasikan untuk kesehatan adalah sekitar satu sendok teh per hari. Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat memicu hipertensi. Selain garam, waspadai makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti jeroan, santan, keju, gorengan dan mentega. Lemak jenuh dapat mengendap di dalam arteri dan menghambat peredaran darah.
  • Menjaga berat badan. Berat badan yang sehat penting untuk dipertahankan. Karena jika kita mengalami obesitas, jantung akan lebih sulit mengedarkan darah sehingga harus memompa lebih keras. Lama-kelamaan hal ini dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu angin duduk.
  • Membatasi konsumsi minuman keras. Kandungan kalori di dalam alkohol sangat tinggi. Karena itu, mengonsumsi minuman keras secara berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan hipertensi yang pada akhirnya dapat memicu angin duduk.
  • Berhenti merokok. Zat-zat yang terkandung di dalam rokok dapat menghambat arteri dan meningkatkan tekanan darah. Jika kondisi itu sampai terjadi, Anda bukan hanya berisiko terkena angin duduk, tapi juga berisiko terkena stroke dan serangan jantung.

Azithromycin, Antibiotik yang digunakan untuk terapi covid

Azithromycin merupakan antibiotik golongan makrolida yang memiliki mekanisme kerja dengan mengikat subunit ribosom 50S pada mikroorganisme y...