Powered By Blogger

Wednesday, October 6, 2021

Fapivirapir untuk Covid


Dalam 2 tahun ini dunia dihebohkan dengan kemunculan penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona. Penyebaran Covid-19 diketahui sangat mudah menular dan penyebarannya sudah menjangkau berbagai belahan dunia. Akibat dari penyebaran yang begitu cepat menyebabkan jutaan orang terinfeksi Covid 19 dari berbagai belahan dunia, serta memaksa sebagian besar masyarakat menghentikan aktivitasnya diluar rumah.

Hingga saat ini belum ada obat yang disetujui BPOM untuk mengobati Covid 19 secara spesifik. Tetapi pasien yang terinfeksi Covid 19 dan mendapat perawatan di rumah sakit secara umum akan diberikan terapi Fapivirapir. Apa itu Favipirapir dan kenapa ia diberikan pada penderita Covid 19?

Favipirapir sebelumnya lebih dikenal sebagai obat antivirus untuk pengoabatan influenza di mana antivirus lain tidak efektif. Tablet Favipirapir memiliki potensi 200 mg dalam 1 tabletnya dan saat ini sudah digunakan dalam penelitian untuk pengobatan Covid 19. Penggunaan Favipirapir untuk menghentikan penyebaran virus corona dalam tubuh pasien. BPOM memberikan izin penggunaan terapi Favipirapir dalam terapi Covid 19 sebagai penggunaan darurat untuk pasien Covid dewasa dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang.

Dosis penggunaan Favipirapir selama ini ditentukan oleh dokter yang merawat pasien karena memang dosis optimal untuk mengobati Covid 19 belum diketahui sehingga dosis antara satu pasien dengan pasien lain mungkin berbeda. Secara umum pemberian Favipirapir kepada pasien Covid 19 maksimum 14 hari. Apabila dalam terapi pasien sedang menyusui, maka diharuskan menghentikan aktivitas menyusui karena Favipirapir terdistribusi ke dalam ASI. Favipirapir juga terdistribusi dalam sperma sehingga pasien laiki-laki akan diminta menggunakan pengaman dalam melakukan hubungan seksual. Penggunaan Favipirapir juga dilarang untuk ibu hamil. Apabila pasien sedang dalam hamil maka dapat didiskusikan dengan dokter yang merawat untuk mengganti terapi Favipirapir dengan terapi lain, begitu pula dengan kondisi ibu yang sedang menyusui yang tidak bisa menghentikan aktivitas menyusui. Secara umum apabila penderita hanya mengalami gejala ringan maka tidak diberikan Favipirapir dan hanya diberikan vitamin serta obat untuk mengatasi gejala yang timbul seperti batuk atau demam.

Favipirapir termasuk dalam golongan obat keras sehingga harus ada resep dokter untuk mendapatkan obat tersebut. Dalam penggunaan Favipirapir ada beberapa efek samping yang harus diketahui oleh pasien, secara umum  efek samping yang timbul adalah gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, sakit perut, radang lambung atau tukak lambung. Pada beberapa kasus Favipirapir juga menyebabkan gatal dan eksim. Karena itulah apabila pasien merasakan bahwa terapi Favipirapir menyebabkan efek samping segera konsultasikan dengan dokter untuk menjadi pertimbangan pengobatan selanjutnya.

Favipirapir sejauh ini memang belum ditetapkan sebagai obat Covid 19 namun dalam kondisi ringan hingga sedang penggunaan Favipirapir secara umum akan diberikan dengan pertimbangan kondisi pasien. Dan karena dosis optimal belum dapat diketahui maka pasien dilarang untuk membeli atau mengkonsumsi Favipirapir tanpa sepengetahuan dokter.

Azithromycin, Antibiotik yang digunakan untuk terapi covid

Azithromycin merupakan antibiotik golongan makrolida yang memiliki mekanisme kerja dengan mengikat subunit ribosom 50S pada mikroorganisme y...