Powered By Blogger

Tuesday, April 25, 2017

Apa itu angin duduk? Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Penegahannya

Angin duduk seringkali disamakan dengan masuk angin padahal sejatinya angin duduk tidak sesederhana masuk angin atau demam, angin duduk atau di dunia medis dikenal dengan nama angina adalah sebuah kondisi yang ditandai dengan nyeri pada dada akibat otot-otot jantung kurang mendapat pasokan darah. Terganggunya pasokan darah ini terjadi karena adanya penyempitan atau pengerasan pada pembuluh darah. Serangan angin duduk bisa terjadi secara tiba-tiba.
Hasil gambar untuk angin duduk
Nyeri dada yang dialami oleh penderita angin duduk kemungkinan bisa menjalar sampai ke lengan kiri, leher, rahang, dan punggung. Selain gejala tersebut, gejala angin duduk lainnya adalah:
  • Sesak napas.
  • Tubuh terasa lelah.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Gelisah.
  • Mengeluarkan keringat berlebihan.
Meskipun tidak semua nyeri dada berhubungan dengan penyakit jantung, tetapi anda tetap harus waspada. Temui dokter jika tiba-tiba Anda merasakan nyeri pada dada, namun belum pernah terdiagnosis menderita masalah apa pun pada jantung. 

Penyebab Angin Duduk (Angina)

Agar dapat bekerja dengan baik, jantung membutuhkan asupan darah yang kaya akan oksigen secara cukup. Darah untuk jantung akan dialirkan melalui dua pembuluh besar yang disebut sebagai pembuluh koroner. Angin duduk terjadi ketika pembuluh koroner tersebut mengalami penyempitan.
Berdasarkan hal-hal yang dapat memicu penyempitan pembuluh koroner, angin duduk dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  • Angin duduk stabil. Aktivitas fisik (misalnya olahraga) adalah pemicu terjadinya kondisi ini. Ketika seseorang melakukan olahraga, jantungnya akan membutuhkan lebih banyak asupan darah. Asupan tersebut tidak akan tercukupi jika pembuluh koroner mengalami penyumbatan atau penyempitan. Serangan angin duduk stabil juga dapat dipicu oleh beberapa hal lainnya, seperti merokok, stres, makan berlebihan, dan udara dingin.
  • Angin duduk tidak stabil. Kondisi ini dapat dipicu oleh timbunan lemak atau pembekuan darah yang mengurangi atau menghalangi aliran darah menuju jantung. Tidak seperti angin duduk stabil, nyeri akibat angin duduk tidak stabil akan tetap ada walau penderita sudah berisitirahat dan mengonsumsi obat.  Jika dibiarkan, serangan angin duduk tidak stabil bisa berkembang menjadi serangan jantung.
  • Angin duduk varian (angin duduk Prinzmetal). Dalam kasus ini arteri jantung menyempit sementara akibat spasme. Angin duduk varian bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika seseorang sedang beristirahat. Gejalanya seringkali parah. Penyempitan sementara pada arteri menyebabkan pasokan darah ke jantung menurun dan timbulah rasa sakit. Meskipun begitu, gejala angin duduk varian bisa diredakan dengan obat-obatan.
Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena angin duduk. Beberapa faktor tersebut di antaranya:
  • Kolesterol tinggi. Tingginya kadar kolesterol di dalam tubuh seseorang berpotensi menumpuk di dalam pembuluh darah. Jika ini terjadi, tentu saja darah akan sulit mengalir ke dalam jantung.
  • Memiliki penyakit diabetes. Tingginya kadar gula akibat diabetes, dapat merusak dinding arteri. Selain itu, diabetes juga dapat meningkatkan kadar kolesterol di dalam tubuh.
  • Hipertensi. Jika aliran darah terhalang, jantung akan makin kuat memompa dan meningkatkan tekanan agar darah tersebut dapat mengalir. Jika ini terus terjadi, maka tekanan tinggi tersebut dapat merusak dinding arteri atau menyebabkan pengerasan pada pembuluh tersebut.
  • Stres. Saat kita mengalami stres, tubuh akan memproduksi sejumlah hormon yang dapat mempersempit pembuluh darah. Selain itu stres juga dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Obesitas. Orang yang mengalami obesitas akan rentan mengalami sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko terkena angin duduk, seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
  • Merokok. Aktivitas ini dapat merusak dinding arteri dan menyebabkan penimbunan kolesterol sehingga darah akan kesulitan membawa oksigen untuk diedarkan.
  • Riwayat. Jika kita pernah terkena penyakit yang berhubungan dengan jantung atau memiliki keluarga yang memiliki riwayat tersebut, maka kita juga akan berisiko tinggi terkena angin duduk.
  • Kurang berolahraga. Orang yang kurang olahraga berisiko terkena angin duduk karena akan rentan terhadap obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes, yang akhirnya akan meningkatkan risiko terjadinya angina.
  • Umur. Orang yang berusia lanjut lebih berisiko terkena angin duduk dibandingkan dengan orang yang masih muda karena pembuluh darah akan mengeras dan kehilangan kelenturannya seiring bertambahnya usia. Terutama bagi pria, peningkatan risiko ini dimulai pada umur 45 tahun, sedangkan pada wanita dimulai pada umur 55 tahun.

Berikut adalah pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis angin duduk:

  • Elektrokardiogram (EKG). Melalui tes ini aktivitas elektrik dan ritme jantung direkam dengan bantuan elektroda yang dihubungkan pada sebuah mesin khusus. Dari pola detak jantung yang terekam ini, dokter dapat melihat apakah aliran darah pasien mengalami penurunun atau gangguan. Selain angin duduk, elektrokardiogram juga dapat mendeteksi apakah pasien mengalami serangan jantung.
  • Ekokardiogram. Tes ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang berkaitan dengan angin duduk, misalnya adanya kerusakan otot jantung akibat terganggunya aliran darah atau adanya bagian jantung yang kurang cukup mendapatkan suplai darah. Identifikasi ini didapat dari sebuah gambar yang dihasilkan melalui gelombang suara.
  • Tes ketahanan jantung (Exercise Tolerance Test)Tes ini bertujuan mengukur daya tahan jantung saat kita melakukan aktivitas fisik sebelum gejala angin duduk muncul. Aktivitas fisik bisa berupa olahraga dengan treadmill yang dilakukan di ruangan. Tes ketahanan jantung akan dipadukan dengan elektrokardiogram untuk membantu dokter membaca ritme jantung.
  • Skintigrafi jantung. Tes ini bisa dilakukan jika hasil pembacaan elektrokardiogram masih meragukan. Di dalam tes skintigrafi jantung, sebuah cairan pewarna khusus akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Zat pewarna ini akan mengalir menuju jantung dan dipantau dengan menggunakan kamera gamma untuk mengetahui jika aliran tersebut mengalami gangguan.
  • Angiografi pembuluh darah koronerTes ini dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang berbentuk selang tipis yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah. Tujuannya untuk mengetahui apakah pembuluh darah tersebut mengalami penyumbatan dan seberapa parah penyumbatan tersebut. Angiografi jantung dilakukan jika diagnosis angin duduk tidak bisa dilakukan dengan cara apa pun atau jika gejala terus ada meski sudah diobati. Tes ini berisiko menimbulkan komplikasi seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, prosedur ini hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan.
  • Tes darah. Dokter akan meneliti keberadaan enzim jantung di dalam darah sebagai acuan terjadinya kerusakan pada organ jantung akibat serangan jantung.
  • X-ray dada (rontgen). Metode pemeriksaan ini terkadang dipakai oleh dokter untuk melihat apakah gejala yang dirasakan berkaitan dengan kondisi selain angin duduk. Selain itu, pemeriksaan yang menghasilkan citra jantung dan paru-paru ini dipakai oleh dokter untuk melihat adanya pembesaran jantung.
  • CT scan jantung. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui adanya dan seberapa parah penyempitan pada pembuluh jantung serta apakah ada pembesaran jantung yang tidak terlalu tampak dari hasil X-Ray dada. CT scan jantung dilakukan dengan bantuan mesin khusus berbentuk tabung yang dilengkapi dengan X-ray. Dari pemeriksaan ini akan didapat gambar mengenai kondisi jantung pasien secara terperinci.

Pengobatan Angin Duduk (Angina)

Pengobatan angin duduk bertujuan mengurangi tingkat keparahan gejalanya dan menurunkan risiko penderitanya terkena serangan jantung atau mengalami kematian.
Angin duduk dengan gejala ringan atau menengah sebenarnya masih bisa ditangani tanpa obat-obatan, yaitu dengan menjalani pola hidup sehat dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat memicu munculnya angin duduk. Beberapa hal tersebut di antaranya:
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang atau yang mengandung banyak serat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian.
  • Batasi konsumsi makanan-makanan yang mengandung lemak jenuh.
  • Jangan makan melebihi porsi atau kalori yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Seimbangkan antara aktivitas fisik yang dilakukan dengan istirahat. Ada baiknya minta nasihat dokter terlebih dahulu mengenai olahraga yang aman untuk kondisi Anda.
  • Hindari stres atau tangani stres jika Anda mengalaminya.
  • Lakukanlah program penurunan berat badan jika Anda mengalami obesitas.
  • Hindari asap rokok.
  • Batasi konsumsi minuman keras.
  • Selalu kontrol kadar gula darah jika Anda menderita diabetes.
Jika angin duduk tidak cukup diatasi dengan penerapan gaya hidup sehat, maka dokter dapat meresepkan beberapa obat berikut ini untuk mengatasi sekaligus mencegah terjadinya angin duduk di kemudian hari:
  • Obat-obatan nitrat. Selain efektif dalam mengatasi gejala angin duduk, nitrat juga dapat digunakan sebagai metode pencegahan jangka panjang atau digunakan sebelum melakukan aktivitas yang berpotensi menyebabkan angin duduk (misalnya olahraga). Obat ini berfungsi melemaskan pembuluh darah yang kaku agar darah dapat mengalir dengan lancar menuju jantung. Salah satu obat nitrat yang banyak digunakan adalah glyceryl trinitrate. Obat ini mampu meredakan gejala angin duduk dengan cepat. Jangan mengonsumsi minuman keras selama menjalani pengobatan dengan glyceryl trinitrate karena dapat memperparah efek samping yang muncul.
  • Obat-obatan pencegah pembekuan darah. Obat ini berfungsi memisahkan kepingan-kepingan darah dan mencegah penggumpalan. Beberapa contoh obat dari golongan ini adalah clopidogrel dan ticagrelor.
  • Obat penghambat saluran kalsium. Obat ini dapat melancarkan aliran darah di dalam jantung dan meredakan atau mencegah gejala angin duduk. Obat yang juga dikenal sebagai antagonis kalsium ini mampu melemaskan sel-sel otot yang terdapat di dalam dinding pembuluh darah.
  • Nicorandil. Obat ini merupakan jenis aktivator saluran kalium, dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang tidak bisa mengonsumsi obat penghambat saluran kalsium. Obat ini berfungsi memperlancar aliran darah pada jantung dengan cara memperlebar arteri koroner.
  • Obat penghambat beta. Dalam meredakan atau mencegah gejala angin duduk, obat ini bekerja dengan cara menangkal efek hormon adrenalin sehingga tekanan darah berkurang dan ritme jantung menurun. Dengan demikian, beban jantung akan menurun.
  • IvabradineIni adalah obat generasi baru dengan kinerja yang sama dengan obat penghambat beta. Obat ini dapat dijadikan alternatif jika penderita angin duduk tidak bisa mengonsumsi obat penghambat beta karena kondisi medis tertentu, seperti infeksi pada paru-paru.
  • Ranolazine. Obat ini dapat mencegah angin duduk dengan cara memperlancar aliran darah dan melemaskan otot-otot jantung. Ranolazine aman digunakan oleh penderita yang memiliki ritme jantung tidak teratur atau memiliki riwayat serangan jantung karena obat ini tidak memengaruhi kecepatan detak jantung.
  • Selain obat-obatan untuk mengatasi dan mencegah serangan angin duduk, dokter mungkin juga akan meresepkan beberapa obat untuk mencegah terjadinya serangan jantung dan stroke, seperti:
  • Statin. Obat ini mampu menurunkan kadar kolesterol sehingga kerusakan pembuluh darah dapat dicegah. Selain itu, statin juga dapat menurunkan risiko terkena stroke dan serangan jantung. Statin bekerja dengan cara memblokir suatu enzim penghasil kolesterol yang terdapat di dalam organ hati. Potensi efek samping statin adalah nyeri perut, diare, dan konstipasi.
  • Aspirin. Obat ini berfungsi untuk mengurangi tingkat penggumpalan darah sehingga darah akan mudah mengalir melalui pembuluh yang sempit sekali pun. Selain mengatasi angin duduk, aspirin juga dapat menurunkan risiko terkena serangan jantung. Beberapa efek samping penggunaan aspirin di antaranya adalah mual, gangguan pencernaan, dan iritasi lambung.
  • Obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor)Obat ini berfungsi untuk menghambat aktivitas suatu hormon yang dapat mempersempit pembuluh darah. Hormon tersebut disebut angiotensin. Obat ini juga dapat menurunkan tekanan darah. ACE inhibitor tidak boleh digunakan pada penderita angin duduk yang memiliki gangguan ginjal karena dapat menurunkan suplai darah ke organ tersebut.
Jika gejala angin duduk sudah parah dan tidak bisa lagi diatasi dengan obat-obatan, tindakan operasi akan dipertimbangkan oleh dokter demi mencegah terjadinya serangan jantung. Beberapa jenis operasi tersebut di antaranya:
  • Operasi bypass. Prosedur ini bertujuan untuk mengalihkan rute aliran darah agar tidak melewati pembuluh darah yang terhalang atau sudah rusak dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lainnya.
  • Operasi angioplasti. Prosedur yang bertujuan memperlancar aliran darah ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah balon kecil ke dalam pembuluh darah yang mengalami penyempitan, sehingga ketika balon tersebut ditiup, pembuluh darah akan melebar. Setelah itu, sebuah kawat khusus akan digunakan. Fungsi kawat ini untuk mengganjal pembuluh darah agar tetap terbuka.

Pencegahan Angin Duduk (Angina)

Langkah pencegahan angin duduk hampir serupa dengan langkah pengobatan awal angin duduk tanpa menggunakan obat, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain mencegah terjadinya serangan angin duduk pada orang-orang yang belum pernah mengalaminya, penerapan pola hidup sehat juga dapat mengurangi tingkat keparahan gejala angin duduk pada penderitanya. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah angin duduk, di antaranya:
  • Berolahraga. Anda bisa melakukan olahraga ringan, seperti bersepeda santai, berjalan, atau berenang. Selain dapat menurunkan berat badan, olahraga juga dapat membuat peredaran darah menjadi lancar dan menurunkan tekanan darah, sehingga jantung dan pembuluh koroner tetap sehat.
  • Mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung. Agar bisa tetap bekerja dengan baik, Anda butuh makanan penunjang. Makanan yang sehat untuk jantung harus kaya akan serat. Anda bisa mendapatkan kebutuhan serat melalui buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian utuh. Selain serat, makanan yang mengandung lemak tidak jenuh juga sehat untuk jantung karena lemak tidak jenuh dapat membantu menurunkan penyumbatan pembuluh darah. Beberapa contoh makanan yang mengandung lemak tak jenuh adalah ikan tuna, salmon, tahu, minyak zaitun, kacang almond, dan buah avokad.
  • Hindari makanan yang berbahaya bagi jantung. Agar terhindar dari angin duduk, hindarilah makanan yang terlalu banyak mengandung garam. Takaran garam yang direkomendasikan untuk kesehatan adalah sekitar satu sendok teh per hari. Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat memicu hipertensi. Selain garam, waspadai makanan yang mengandung lemak jenuh, seperti jeroan, santan, keju, gorengan dan mentega. Lemak jenuh dapat mengendap di dalam arteri dan menghambat peredaran darah.
  • Menjaga berat badan. Berat badan yang sehat penting untuk dipertahankan. Karena jika kita mengalami obesitas, jantung akan lebih sulit mengedarkan darah sehingga harus memompa lebih keras. Lama-kelamaan hal ini dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu angin duduk.
  • Membatasi konsumsi minuman keras. Kandungan kalori di dalam alkohol sangat tinggi. Karena itu, mengonsumsi minuman keras secara berlebihan dapat menyebabkan obesitas dan hipertensi yang pada akhirnya dapat memicu angin duduk.
  • Berhenti merokok. Zat-zat yang terkandung di dalam rokok dapat menghambat arteri dan meningkatkan tekanan darah. Jika kondisi itu sampai terjadi, Anda bukan hanya berisiko terkena angin duduk, tapi juga berisiko terkena stroke dan serangan jantung.

Tuesday, April 18, 2017

Tanaman Kacang Merah dan Khasiat serta Manfaatnya

                                                       KACANG MERAH


Klasifikasi dari kacang merah :
Kingdom         : Plant
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisio      : Angiosspermae
Kelas               : Dicotyledonae
Sub kelas         : Calyciflorae
Ordo                : Rosales (Leguminales)
Famili              : Leguminosae (Papilionaceae)
Sub famili        : Papilionoideae
Genus              : Phaseolus
Spesies            : Phaseolus vulgaris L.
Sebenarnya, Phaseolus vulgaris L dalam bahasa Inggris disebut common bean dan di Indonesia biasa disebut buncis, sedangkan kacang merah adalah salah satu varietas dari buncis yang mempunyai biji yang besar. Jadi secara ilmiah kacang merah dan berbagai varietas lain dari buncis seperti kacang pinto, kacang navy, dan kacang hitam dikenal sebagai Phaseolusvulgaris.
Kacang merah merupakan tumbuhan asli dari lembah Tahuacan-Meksiko. Namun seiring dengan waktu kacang merah terus menyebar. Pada awalnya hanya menyebar di daerah Amerika Tengah dan Amerika Latin. Namun sekarang sudah terdapat di Eropa, dan seluruh dunia termasuk Indonesia.
Kacang merah merupakan sumber yang bagus bagi molybdenum. Kacang merah juga mengandung folat, serat, mangan, fosfor, protein, vitamin B1, besi, potassium, dan magnesium. Menurut Djamil dan Tria (2009) kacang merah diketahui juga mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, dan kumarin.
Kacang merah ini memiliki bentuk seperti ginjal, berwarna merah dan memiliki corak merah tua di sekitar kulitnya. Kacang merah ini cocok di tanam pada iklim basah sampai kering dengan ketinggian yang bervariasi dan curah hujan 1.500-2.500 mm/tahun. Sifat-sifat tanah yang baik untuk kacang merah: gembur, subur dan keasaman (pH) 5,5-6. Jika ditanam pada tanah pH < 5,5 terjadi gangguan penyerapan unsur hara). Biji kacang merah yang dipetik belum tua memiliki kualitas yang rendah (biji mudah keriput) dan kandungan gizinya juga rendah.




Sunday, April 16, 2017

Tanaman Kayu Secang dan Manfaat serta Khasiatnya

Hasil gambar untuk kayu secang
Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan tumbuhan yang tumbuh di tempat terbuka sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut seperti di daerah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Tingginya 5-10 m. Batangnya berkayu, bulat dan berwarna hijau kecoklatan (Hariana, 2006).
Klasifikasi tanaman Secang adalah sebagai berikut (Tjitrosoepomo, 1994):
Kingdom                : Plantae
Divisi                      : Spermatophyta
Sub divisi               : Angiospermae
Kelas                      : Dicotyledonae
Ordo                       : Rosales
Familia                    : Caesalpiniaceae
Genus                     : Caesalpinia
Spesies                    : Caesalpinia sappan L.
Di daerah tropis pada umumnya, kayu secang biasa dipergunakan sebagai pewarna makanan, kosmetika, cat dan memiliki potensi aktivitas farmakologi. Kayu secang memiliki beberapa aktivitas farmakologi diantaranya sebagai agen sitotoksik dan antitumor, antimikroba, antivirus, antiinflamasi, aktivitas hipoglikemik, hepatoprotektif dan aktivitas lainnya (Badami et al, 2004).
Kandungan  kimia  yang terdapat pada  kayu secang brazilin, brazilein, sappanchalcone, caesalpin J, caesalpin P, protosappanin A, protosappanin B, homoisoflavonoid ÎČ-sitosterol, monohidroksibrazilin, benzil dihidrobenzofuran. Selain itu juga mengandung sappanol, episappanol, 3-deoksisappanol, 3-0-metilsappanol, 3-0- metilepisappanol, 3-0-metilbrazilin, 4-0-metilepisappanol, sappanon ÎČ, 3- deoksisappanon ÎČ, dibenzoksosin, 10-0-metilsappanion ÎČ, dll (Pawar et al., 2008).  Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa kayu secang juga mengandung senyawa kimia dari kelompok alkaloid, flavonoid dan saponin. Senyawa brasilin/brasilein dan flavonoid dapat berperan sebagai antioksidan (Sufiana dan Harfia, 2014).
Menurut Indriani (2003), kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami karena mengandung brazilin berwarna merah yang bersifat mudah larut dalam air panas, mudah larut dalam alkohol, eter serta alkali hidroksi. Dikatakan oleh Holinesti (2009), bahwa eter dan alkohol akan menimbulkan warna kuning pucat terhadap larutan brazilin. Sedangkan apabila terkena sinar matahari maka brazilin akan dengan cepat membentuk warna merah. Terjadinya warna merah ini disebabkan oleh terbentuknya brazilein (C16H12O5). Brazilin termasuk ke dalam flavonoid sebagai isoflvonoid. 

Daftar Pustaka

Badami S., Moorkoth S., Suresh B,  2004, Caesalpinia sappan a medicinal and dye yielding plant, Nat Product radiance, 3 (2): 75-82.
Indriani, H., 2003, Stabilitas Pigmen Alami Kayu Secang (Caesalpinia sappan Linn) dalam Model Minuman Ringan, Skripsi, Institut Pertanian, Bogor.
Hariana, A., 2006, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Niaga Swadaya, Depok.
Tjitrosoepomo, G., 1994, Taksonomi Tumbuhan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.


Thursday, April 13, 2017

Daftar Interaksi Obat Sitostatika Obat Kanker

Daftar Interaksi Obat Sitostatika

No
Obat
Interaksi
1.
Paclitaxel + Cisplatin
Cisplatin menaikkan efek paclitaxel dengan menurunkan klirense ginjal. Terjadi interaksi minor atau non signifikan.
2.
Leucovurin + Curacil
Leucovurin menaikkan toksisitas curacil, bekerja sinergis. Potensial terjadi interaksi, perlu monitor.
3.
Doxorubicin + Cyclophosphamid
Doxorubicin menaikkan toksisitas cychlo-phosphamide.Terjadi interaksi signifkan, perlu dimonitor. Interaksi obat dapat menaikkan resiko hemorrhagic cystitis.
4.
Carboplatin + Cyclophosphamid
Carboplatin  dan Cychlophosphamid bekerja sinergis. Potensial interaksi, perlu di monitor. Additive myelosupression.
5.
MTX + Cisplatin
MTX dan Cisplatin keduanya menaikkan nephrotoxicity dan atau ototoxicity. Potensial terjadi interaksi, perlu monitor.
6.
Herceptin + Paclitaxel
Paclitaxel menaikkan efek herceptin yang tidak diketahui mekanismenya. Potensial untuk bahaya interaksi. Perlu perhatian dan monitor.


Wednesday, April 5, 2017

Obat Kanker Sitostastika Mengenal Lebih Dekat

Hasil gambar untuk sitostatikaHasil gambar untuk sitostatika
Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel-sel secara fraksional ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil daan 10 % tidak berhasil. (Hanifa Wignjosastro, 1997). Bahan Sitostatika adalah zat/obat yang merusak dan membunuh sel normal dan sel kanker, serta digunakan untuk menghambat pertumbuhan tumor malignan. Istilah sitostatika biasa digunakan untuk setiap zat yang mungkin genotoksik, mutagenik, onkogenik, teratogenik, dan sifat berbahaya lainnya. Sitostatika tergolong obat beresiko tinggi karena mempunyai efek toksik yang tinggi terhadap sel, terutama dalam reproduksi sel sehingga dapat menyebabkan karsinogenik, mutagenik dan tertogenik. Oleh karena itu, penggunaan obat sitstatika membutuhkan penanganan khusus untuk menjamin keamanan, keselamatan penderita, perawat, profesional kesehatan, dan orang lain yang tidak menderita sakit. Tujuan penanganan bahan sitostatika adalah untuk menjamin penanganannya yang tepat dan aman di rumah sakit
        Penanganan sitostatika harus memperhatikan :
1. Teknik aseptik
2. Pemberian dalam biological safety cabinet
3. Petugas yang bekerja harus terlindungi
4. Jaminan mutu produk
5. Dilaksanakan oleh petugas yang terlatih
6. Adanya Protap
         Standar kerja yang harus dipersiapkan meliputi :
1. Teknik khusus penanganan sitostatika
2. Perlengkapan pelindung (baju, topi, masker, sarung tangan)
3. Pelatihan petugas
4. Penandaan, pengemasan, transpotasi
5. Penanganan tumpahan obat sitostatika
6. Penanganan limbah         
Contoh Prosedur tetap penanganan sitostatika yang aman terdiri dari :
1.  Persiapan
² Bahan    : obat sitostatika, pelarut
² Alat        : spuit, jarum, baju, sarung tangan, masker, topi, sarung kaki
2.  Protap ruang aseptik
3.  Protap pengerjaan dalam ampul
4.  Protap pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan saat penyiapan
     sitostatika
5.  Protap penanganan jika obat jatuh dan pecah
6.  Protap penanganan limbah sitostatika
Sarana dan Prasarana yang diperlukan untuk penanganan sitostatika
a. Ruang
1. Persyaratan Ruang Aseptik
²  Ruang tidak ada sudut atau siku
²  Dinding terbuat dari epoksi
²  Partikel udara sangat dibatasi : kelas 100, 1000, 10.000 partikel/liter
²  Aliran udara diketahui dan terkontrol
²  Tekanan ruangan diatur
²  Suhu dan kelembaban udara terkontrol (suhu : 18-22 derajat celcius dan kelembaban 35-50%)
²  Ada Hepa filter
2. Ruang Transisi
Ruangan ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang aseptik, di ruanngan ini petugas menggunakan perlengkapan steril
    3. Ruang Cuci Tangan
Ruangan ini digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah melakukan penanganan obat sitostatatika

b. Alat
1. Pass Box
Jendela antara ruang administrasi dan ruang aseptik berfunsi untuk keluar masuknya obat kedalam ruang aseptik 
2. Laminan Air Flow (LAF)
LAF yang digunakan untuk pecampuran sitostatika adalah tipe : Biological Safety Cabinet (BSC). Validasi hepa filter dilakukan setiap 6 bulan dengan jalan kalibrasi. Hepa filter diganti setiap 4 tahun sekali. Aliran udara yang masuk kedalam LAF harus konstan
3. Kelengkapan APD ( Alat pelindung diri)
Kelengkapan ini terdiri dari :
a. Baju             : Terbuat dari bahan yang tidak mengandung serat harus menutupi seluruh anggota badan kecuali muka
b. Topi                 :   harus menutupi kepala sampai leher
c. Masker            :   harus mempunyai kaca plastik
d. Sarung tangan :   digunakan rangkap dua dan terbuat dari bahan latex
e. Sepatu             :   terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam
4.   Biological Safety cabinet (BSC)
Alat ini digunakan untuk pencampuran sitostatika yang berfungsi untuk melindungi petugas, materi yang dikerjakan dan lingkungan sekitar. Prinsip kerja dari alat ini adalah : tekanan udara di dalam lebih negatif dari dari tekanan udara diluar sehingga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Didalam BSC udara bergerak vertikal membentuk barier sehingga jika ada peracikan obat sitostatika tidak terkena petugas. Untuk validasi alat ini harus dikalibrasi setiap 6 bulan. (depkes, 2009)
B. Tujuan Pemberian Kemoterapi
Ø  Meringankan gejala
Ø  Mengontrol pertumbuhan sel- sel kanker
C. Cara Pemberian
Cara pemberian obat sitostatika dapat dilakukan secara :
1. PO : Per Oral
2. SC : Sub Cutan
3. IM : Intra Muscular
4. IV : Intra Vena
5. IT : Intra Thecal
6. IP : Intra Peritoneal / Pleural

Pemilihan vena dan arteri yang tepat serta peralatan yang harus dipakai ditentukan oleh usia pasien, status vena dan obat yang diberikan melalui infus. Lakukan pemilihan vena diatas area yang lentur serta pemilihan iv cateter yang paling pendek dan ukurannya yang paling kecil yang sesuai. Vena yang sering digunakan adalah : Basillic, cephalica dan metakarpal. Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam dan vena yang cocok untuk penusukan terasa halus dan lembut, tidak keras dan menonjol serta memilih vena yang cukup lebar untuk tempat peralatan, media kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jarigan lunak
Prosedur Kerja Penanganan Obat sitostatika
Sebelum kita memulai melaksanakan kegiatan preparasi obat sitostatika yang aman dan menghasilkan produk yang bermutu, harus disusun dahulu standar prosedur kerja sebagai pedoman petugas dalam melaksanakan kegiatan.
Standar Prosedur Kerja meliputi :
·      Fasilitas fisik yang dibutuhkan untuk melindungi operator dan produk
·      Pakaian pelindung yang melindungi operator dan produk
·      Prosedur pelatihan untuk personal
·      Teknik khusus yang diperlukan untuk safe handling cytotoxic
·      Prosedur pembersihan tumpahan obat
·      Prosedur pemberian label, pengemasan, transportasi dan pembuangan limbah cytotoxic

1. Fasilitas Fisik
Australian standard 2639 mensyaratkan menggunakan Cytotoxic Drugs Safety Cabinet (CDSC) yang diletakkan dalam Clean Room. CDSC dan Clean Room dilengkapi dengan HEPA Filter. Cytotoxic Drugs Safety Cabinet yang digunakan bisa Type ISOLATOR atau Biological Safety Cabinet dengan aliran Vertikal. Tekanan Udara di dalam CDSC lebih negatif dibanding didalam Clean Room dan tekanan udara didalam Clean lebih positif dibandingkan diluar. Transportasi keluar masuknya obat-obatan dan alat-alat pendukung preparasi obat dilakukan melalui Pass Box, untuk meminimalkan kontaminasi udara kedalam clean room. Komunikasi petugas didalam clean room dengan petugas diluar dilakukan dengan intercom.
Perawatan Cytotoxic Drugs Safety Cabinet & Clean Room :
·        Cytogard dibersihkan setiap hari dengan desinfectant atau detergent .
·        Desinfeksi clean room dilakukan 1 kali seminggu.
·       Uji mikrobiologi dilakukan secara periodik untuk memeriksa apakah HEPA Filter bekerja dengan baik sehingga dapat menjaga sterilitas sediaan
·       Pengukuran jumlah partikel didalam Cytogard maupun dalam clean room dilakukan secara periodic.
2. Pakaian Pelindung
Pakaian ( Gown )
·        Pakaian terdiri dari pakaian dalam dan pakaian luar
·        Pakaian Pelindung (pakaian luar) harus terbuat dari material yang tidak 
melepaskan debu dan serat.
·        Bahan yang digunakan tidak tembus oleh cairan
·        Pakaian pelindung dibuat lengan panjang dengan manset elastik pada
     tangan dan kaki
Sarung tangan
·          Sarung tangan yang digunakan double untuk melindungi jika terjadi
     tusukan dan harus menutupi manset baju.
·          Sarung tangan yang dipakai harus bebas dari bedak, untuk menghindari
     partikel tersebut masuk kedalam vial.
·        Sarung tangan yang robek harus segera diganti
Tutup Kepala
Tutup kepala harus dapat menutupi rambut sekeliling agar tidak ada partikel kotoran yang dapat mengkontaminasi sediaan.
Tutup Kaki
Tutup kaki digunakan sampai menutup manset baju dalam
Masker & Kaca mata
·        Untuk melindungi mata dan mengurangi inhalasi digunakan kaca mata dan
   masker.
·        Disamping untuk melindungi petugas penggunaan masker juga untuk  
     mengurangi kontaminan.
·        Kaca mata yang digunakan harus dapat melindungi mata dari
     kemungkinan adanya percikan obat kanker.
3. Personal
·       Personal yang akan terlibat dalam preparasi obat sitostatika harus mendapatkan pelatihan yang memadai tentang teknik aseptic dan penanganan obat sitostatika.
·       Petugas wanita yang sedang hamil atau merencanakan untuk hamil tidak dianjurkan untuk terlibat dalam rekonstitusi obat sitistatika
·       Petugas wanita yang sedang menyusui tidak dianjurkan terlibat dalam rekonstitusi obat sitostatika
·       Petugas yang sedang sakit atau mengalami infeksi pada kulit harus diistirahatkan dari tugas ini.
·       Setiap petugas yang akan terlibat dalam rekonstitusi obat sitostatika seminggu sebelumnya harus mendapat pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
1.                Complete blood count
2.                Liver Function Test
3.                Renal Function Test
·       Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan secara periodic setiap 6 bulan, jika terdapat kelainan hasil pemeriksaan harus diteliti lebih dalam
·        Semua hasil harus didokumentasikan
4. Tehnik Penanganan sediaan Sitostatika
1. Penyiapan
Proses penyiapan sediaan sitostatika sama dengan proses penyiapan pencampuran obat suntik. Penyiapan sediaan sitostatika sama dengan proses penyiapan jarum suntik.
1.  Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5 BENAR (benar pasien, obat dosis, rute dan waktu pemberian)
2.  Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima ( nama obat, jumlah, nomor batch, tanggal kadaluarsa), serta melengkapi formulir permintaan.
3.   Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak jelas atau tidak lengkap.
4.   Menghitung kesesuaian dosis.
5.   Memilih jenis pelarut yang sesuai.
6.   Menghitung volume pelarut yang digunakan.
7.   Membuat label obat berdasarkan nama pasien, nomor rekam medis, ruang perawatan dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa campuran (contoh label obat, lampiran 1).
8.   Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomor rekam medis, ruang perawatan, jumlah paket (contoh label pengiriman, lampiran 2).
9.   Melengkapi dokomen pencampuran.
2. Pencampuran
a. Proses pencampuran sediaan sitostatika
1.     Memakai APD sesuai PROSEDUR TETAP
2.     Mencuci tangan sesuai PROSEDUR TETAP
3.     Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
4.     Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai PROSEDUR TETAP
5.     Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6.     Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7.     Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
8.     Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9.     Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi sediaan sitostatika
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat yang harus        terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat kedalam wadah pembuangan khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam wadah     untuk pengiriman.
15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi  melalui pass box.
          16. Menanggalkan APD sesuai prosedur tetap (lampiran 4):
3.   Cara Pemberian
Cara pemberiaan sediaan sitostatika sama dengan cara pemberiaan obat suntik kecuali intramuskular
4.     Penanganan tumpahan dan kecelakan kerja
1.     Penanganan tumpahan
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan petugas tersebut atau meminta pertolongan orang lain dengan menggunakan chemotherapy spill kit yang terdiri dari:
1)    Membersihkan tumpahan di luar BSC dalam ruang steril
a       Meminta pertolongan, jangan tinggalkan area sebelum diizinkan.
b       Beri tanda peringatan di sekitar area.
c       Petugas penolong menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
d       Angkat partikel kaca dan pecahan-pecahan dengan menggunakan alat seperti    sendok dan tempatkan dalam kantong buangan.
e       Serap tumpahan cair dengan kassa penyerap dan buang dalam kantong tersebut.
f        Serap tumpahan serbuk dengan handuk basah dan buang dalam kantong tersebut.
g        Cuci seluruh area dengan larutan detergent.
h       Bilas dengan aquadest.
i            Ulangi pencucian dan pembilasan sampai seluruh obat terangkat.
j           Tanggalkan glove luar dan tutup kaki, tempatkan dalam kantong pertama.
k       Tutup kantong dan tempatkan pada kantong kedua.
l           Tanggalkan pakaian pelindung lainnya dan sarung tangan dalam, tempatkan dalam kantong kedua.
m     Ikat kantong secara aman dan masukan dalam tempat penampung khusus untuk dimusnahkan dengan incenerator.
n       Cuci tangan.
2)    Membersihkan tumpahan di dalam BSC
a       Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau handuk basah untuk tumpahan serbuk.
b       Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang sarung tangan baru.
c       Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus dengan alas  kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam wadah buangan.
d       Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan detergent, bilas dengan   aquadestilata menggunakan kassa. Buang kassa dalam wadah pada buangan.
e       Ulangi pencucian 3 x.
f        Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
g       Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.
h       Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam wadah buangan akhir untuk dimusnahkan dengan inscenerator.
i           Cuci tangan.
2.  Penanganan kecelakaan kerja
a. Dekontaminasi akibat kontak dengan bagian tubuh:
1) Kontak dengan kulit:
a) Tanggalkan sarung tangan.
b) Bilas kulit dengan air hangat.
c) Cuci dengan sabun, bilas dengan air hangat.
d) Jika kulit tidak sobek, seka area dengan kassa yang dibasahi dengan larutan Chlorin 5% dan bilas dengan air hangat.
e) Jika kulit sobek pakai H2O2 3 %.
f) Catat jenis obatnya dan siapkan antidot khusus.
g) Tanggalkan seluruh pakaian alat pelindung diri (APD)
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan.
2) Kontak dengan mata
a)    Minta pertolongan.
b)    Tanggalkan sarung tangan.
c)   Bilas mata dengan air mengalir dan rendam dengan air hangat selama5 menit.
d)   Letakkan tangan di sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan  larutan NaCl 0,9%.
e)  Aliri mata dengan larutan pencuci mata.
f)     Tanggalkan seluruh pakaian pelindung.
g)    Catat jenis obat yang tumpah.
h)    Laporkan ke supervisor.
i)     Lengkapi format kecelakaan kerja.
3)          Tertusuk jarum
a)   Jangan segera mengangkat jarum. Tarik kembali plunger untuk menghisap obat yang mungkin terinjeksi.
b)    Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
c)   Jika perlu gunakan spuit baru dan jarum bersih untuk mengambil obat dalam jaringan yang tertusuk.
d)   Tanggalkan sarung tangan, bilas bagian yang tertusuk dengan air hangat.
e)    Cuci bersih dengan sabun, bilas dengan air hangat.
f)     Tanggalkan semua APD.
g)   Catat jenis obat dan perkirakan berapa banyak yang terinjeksi.
h)    Laporkan ke supervisor.
i)     Lengkapi format kecelakaan kerja.
j)     Segera konsultasikan ke dokter.

4.          Pengelolaan limbah sitostatika
Pengelolaan limbah dari sisa buangan pencampuran sediaan sitoatatika (seperti: bekas ampul,vial, spuit, needle,dll) harus dilakukan sedemikian rupa hingga tidak menimbulkan bahaya pencemaran terhadap lingkungan. Langkah – langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Gunakan Alat Pelindung Diri (APD).
b.   Tempatkan limbah pada wadah buangan tertutup. Untuk bendabenda tajam seperti spuit, vial, ampul, tempatkan di dalam wadah yang tidak tembus benda tajam, untuk limbah lain tempatkan dalam kantong berwarna (standar internasional warna ungu) dan berlogo sitostatika
c.    Beri label peringatan (Gambar 2) pada bagian luar wadah.
d.   Bawa limbah ke tempat pembuangan menggunakan troli tertutup.
e.    Musnahkan limbah dengan incenerator 1000ÂșC.
f.    Cuci tangan.
5.           PROTAP DESINFEKSI DAN DEKONTAMINASI
I. PERSIAPAN BAHAN DAN ALAT
a.      Mempersiapkan bahan yang terdiri dari
² Alkohol swab
² Alkohol 70 % dalam botol spray
² Mendesinfeksi bagian luar kemasan bahan obat sitostatika dan pelarut dengan menyemprotkan alcohol 70 %
b. Mempersiapkan alat yang terdiri dari
² Mensterilkan alas untuk sitostatika
² Mensterilkan bahan untuk sealing (parafin)
² Mensterilkan sarung tangan , masker, baju, topi, sarung kaki
² Spuit inj. Ukuran 2 X vol yang dibutuhkan.
² Jarum
² Mendesinfektan etiket, label, klip plastik, kantong plastik u/ disposal dengan menyemprotkan alkohol 70 %


Azithromycin, Antibiotik yang digunakan untuk terapi covid

Azithromycin merupakan antibiotik golongan makrolida yang memiliki mekanisme kerja dengan mengikat subunit ribosom 50S pada mikroorganisme y...